JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Polisi Temukan Indikasi Dalang Kerusuhan dalam Demo Tolak Omnibus Law

Aksi ribuan massa menolak omnibus law / tempo.co
madu borneo
madu borneo
madu borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  – Polisi akhirnya berhasil menenmukan indikasi adanya aktor intelektual dalam demo buruh dan mahasiswa di Istana Negara pada Kamis (8/10/2020).

Hal itu dikemukakan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Yusri Yunus. Dia mengatakan, aktor intelektual itu yang membuat demonstrasi tolak Omnibus Law Uu Cipta Kerja berakhir dengan kerusuhan. 

“Ini masih kami kumpulkan semua bukti untuk mencari aktor yang di belakang kelompok ini, karena indikasinya ke arah sana,” ujar Yusri saat dihubungi, Sabtu (10/10/2020).

Adapun yang menjadi indikasi demonstrasi di Istana Negara didalangi oleh seseorang, Yusri mengatakan pihaknya mendapat info ada pihak yang menyuplai logistik makanan untuk para pendemo.

Baca Juga :  Terbongkar Gay LGBT, Brigjen EP, Polisi Dijatuhi Hukuman Demosi Mutasi. Diminta Minta Maaf di Depan Sidang dan Pimpinan Polri!

Tak cuma itu, para perusuh juga mendapatkan bantuan bom molotov hingga batu. 

“Bantuan itu ada di mobil yang mengantarkan ke kelompok mereka (perusuh),” ujar Yusri. 

Sebelumnya, demo menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di Istana Negara, Jakarta Pusat pada 8 Oktober 2020 berakhir ricuh. Berbagai fasilitas umum milik Pemprov DKI hingga Kepolsian Daerah Metro Jaya dirusak oleh massa. 

Dalam kerusuhan tersebut, polisi menangkap 1.192 massa pendemo yang terindikasi sebagai perusuh. Mayoritas dari massa yang ditangkap itu adalah pelajar di bawah umur.

Mereka mengaku mendapat undangan dari media sosial dan dijanjikan akan mendapatkan sejumlah uang untuk mengikuti demo itu. 

Baca Juga :  Tragis! Sekeluarga di Legok Tangerang Tewas Saat Rumahnya Terbakar

Saat ini sudah 50 persen siswa telah dipulangkan oleh polisi. Mereka dipulangkan polisi dengan persyaratan orangtua datang ke kantor. 

“Kenapa saya butuh orang tuanya? 50 persen dari 1192 ini adalah anak sekolah STM yang ditanya, ‘kamu tahu enggak apa itu undang-undang (Ciptaker)? Engga tahu. Terus kamu ke sini ngapain? Oh saya diundang pak melalui media sosial diajak teman, nanti dapat duit di sana, dapat makan, tiket kereta sudah disiapin truk sudah disiapin bus sudah disiapin tinggal datang ke sana lempar-lempar saja.'” kata Yusri. 

www.tempo.co