JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Temuan Ini Bikin Polisi Menduga Ada Dalang di Balik Ricuh Demo Tolak UU Cipta Kerja: Ada yang Suplai Batu, Molotov, hingga Makanan

Aparat kepolisian bersitegang dengan massa demonstran di kawasan Harmoni, Jakarta, Kamis (8/10/2020). Foto: Tribunnews/ Irwan Rismawan

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Kepolisian Daerah Metro Kaya menduga adanya pihak yang menjadi dalang di balik aksi demonstrasi menolak Undang-Undang Cipta Kerja yang berakhir ricuh. Dugaan tersebut muncul setelah adanya temuan pihak yang menyiapkan logistik dan barang untuk menimbulkan kerusuhan.

“Ada, ada (indikasi disiapkan logistik dan barang bagi perusuh). Dilihat dari mana? Seperti makan, mereka makan itu ada mobil yang mengantarkan makanan ke kelompok mereka, lalu batu-batu sampai bom molotov. Ini masih kita selidiki semua,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus, Sabtu (10/10/2020).

Hingga saat ini, kepolisian masih terus melakukan penyelidikan di lapangan. Yusri mengatakan, pihaknya berusaha mengumpulkan bukti melalui CCTV dan video yang beredar di media sosial. Selain itu, pendalaman terhadap keterangan saksi-saksi juga masih terus dilakukan.

Hal ini dilakukan untuk mencari informasi dan menemukan aktor yang diduga mengkoordinir kelompok-kelompok yang melakukan vandalisme, pembakaran pos polisi hingga fasilitas umum. “Kita sudah mengumpulkan bukti-bukti saksi yang ada, kita mengumpulkan barang bukti CCTV dan video-video pendek yang beredar di media sosial,” jelasnya.

Baca Juga :  Tegaskan UU Cipta Kerja Untungkan Pekerja dan Jamin Hak Buruh yang Kena PHK, Menko Luhut: Perusahaan Tak Bayar Pesangon Bisa Dipidana

“Kemudian keterangan-keterangan saksi di lapangan. Ini masih kita kumpulkan semuanya untuk mencari aktor yang di belakang kelompok ini, karena indikasinya ke arah sana,” tandas Yusri.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah menetapkan 87 orang sebagai tersangka dalam kasus unjuk rasa atau demo terkait penolakan UU Cipta Kerja di Jakarta yang berakhir rusuh. “Kemarin saya bilang kan 285 yang kita dalami lagi. Sekarang diperkecil lagi tinggal 87 yang sudah ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Yusri.

Dari 87 orang yang ditetapkan sebagai tersangka, saat ini baru tujuh orang yang ditahan pihak kepolisian. Mereka yang ditahan lantaran dijerat dengan pasal pidana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.

Baca Juga :  YLBHI: Aparat Gunakan 11 Cara untuk Menekan Pengkritik Pemerintah

“Yang sudah ditahan itu baru tujuh. Kalau yang tujuh ini ancamannya di atas 5 tahun, jadi ditahan. (Dijerat Pasal) 170 (KUHP), mereka (diduga) melakukan pengeroyokan kepada petugas,” jelasnya.

“Kenapa 80 nggak ditahan? Karena kan pasalnya ada ancaman hukuman, tergantung unsur pasalnya. Sisanya 80 ini masih kita dalami tapi sudah jadi tersangka. Ancamannya sejauh ini masih di bawah 5 tahun jadi nggak ditahan. Nantinya sambil berkembang ini masih didalami,” tambah Yusri.

Lebih lanjut, Yusri mengatakan para tersangka tersebut bukan berasal dari kelompok mahasiswa maupun buruh yang mengikuti aksi unjuk rasa. Mereka disebutnya berasal dari kelompok anarko yang berusaha menyusup untuk menimbulkan kerusuhan. “Iya, kelompok-kelompok anarko itu,” tandasnya.

www.tribunnews.com