JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Diwarnai Ketegangan, Pergantian Pengelola Pasar Desa Majenang Sragen. Pengelola Lama Kecewa Dicopot dan Diganti Karang Taruna

Pengelola Pasar Tisan Sekulak Majenang, Wagiman (kiri) menyatakan kekecewaannya dicopot dan dihentikan dari petugas penarik retribusi di pasar desa, Jumat (15/10/2021) pagi. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pengelolaan Pasar Tisan Sekulak di Desa Majenang, Kecamatan Sukodono, Sragen memicu persoalan.

Kebijakan Pemdes mengganti pengelola pasar dari pengelola lama, Wagiman (55) ke karang taruna, sempat diwarnai ketegangan, Jumat (15/10/2021) pagi.

Kehadiran petugas dari karang taruna yang ditunjuk oleh desa sebagai penarik karcis ke pedagang, sempat diprotes oleh pengelola dan Kadus Surahman yang merasa berwenang mengelola pasar.

Akibatnya sempat terjadi adu argumen sehingga sebagian pedagang akhirnya tidak membayar retribusi tadi pagi.

Kepada wartawan, Wagiman mengaku kecewa diberhentikan ketika baru 8 bulan mengelola pasar desa tersebut. Padahal ia merasa tidak ada kesalahan dan tak menunggak setoran retribusi ke desa.

Karenanya ia keberatan mendadak dicopot dan diganti. Ia mengaku sebelumnya memang ditugasi oleh Kadus Surahman untuk mengelola pasar dan menarik retribusi.

Baca Juga :  Diiringi Tangis Haru, Jenazah Nenek Korban Kesetrum Jebakan Tikus Dimakamkan di TPU Singopadu Sidoharjo

Tugas itu ia laksanakan seminggu dua kali sesuai hari pasaran yakni Wage dan Legi. Selama 8 bulan mengelola, uang tarikan retribusi terkumpul Rp 4,4 juta.

Dari jumlah itu, Rp 2,3 juta digunakan untuk memperbaiki dan merawat pasar dan masih sisa Rp 2,8 juta. Sedangkan sisanya Rp 660.000 disetorkan ke desa beberapa hari lalu sebelum ia diberhentikan.

“Ya kecewa, belum ada setahun sudah diganti. Tidak ada surat, gak ada omongan, tahu-tahu dikabari besok Wage nggak usah nariki lagi. Apa kesalahan saya nggak dijelaskan,” katanya.

Salah satu pedagang jajanan di Pasar Tisan Sekulak. Foto/Wardoyo

Kadus Surahman menyayangkan pengalihan pengelola pasar ke karang taruna desa. Padahal pasar desa itu ada di wilayah kebayanannya.

Baca Juga :  Innalillahi, 25 Guru dan 21 PNS di Sragen Meninggal Dunia Terpapar Ganasnya Covid-19. Simak Pesan Menyentuh Bupati Saat HUT PGRI dan Korpri

Menurutnya, penarikan itu disayangkan karena dilakukan saat kondisi pasar dinilai sudah mulai agak ramai setelah dikelola Wagiman. Di pasar desa itu ada sekitar 50 pedagang dengan retribusi mulai dari Rp 500, Rp 1000 hingga Rp 2000 per orang.

“Bertahun-tahun pasar ini hidup enggan mati pun segan. Setelah dikelola, diperbaiki dan ini kita rencanakan akan dibuat toilet, kok malah ditarik desa dan dimasukkan petugas dari karang taruna. Padahal pasar ini sudah puluhan tahun nggak ada perbaikan dan perubahan apapun. Makanya tadi sebagian pedagang saya minta nggak bayar karcis, yang terlanjur ya dibiarkan,” ujarnya.

Halaman selanjutnya

Halaman :  1 2 Tampilkan semua