Beranda Edukasi Kesehatan Baru 421 dari 8.563 Desa di Jateng Siaga TB, Belum Ada 5%...

Baru 421 dari 8.563 Desa di Jateng Siaga TB, Belum Ada 5% Ini Data Terbarunya

Pasien
Ilustrasi bed rumah sakit. Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Upaya melawan tuberkulosis (TB) di Jawa Tengah masih menghadapi pekerjaan besar. Hingga 9 Oktober 2026, baru 421 dari total 8.563 desa dan kelurahan di provinsi ini yang berstatus Desa/Kelurahan Siaga TB. Artinya, belum 5 persen wilayah desa dan kelurahan di Jateng yang tercatat menyandang status tersebut.

Desa Siaga TB (atau Kelurahan/Kampung Siaga TB) adalah sebuah wadah koordinasi, kolaborasi, dan aksi pemberdayaan masyarakat di tingkat desa atau kelurahan yang dibentuk untuk mencegah, mendeteksi dini, serta menanggulangi penyakit Tuberkulosis (TB) secara mandiri.

Program ini dikembangkan untuk mendukung target nasional agar Indonesia bebas dari TB pada tahun 2030

Data itu menunjukkan pentingnya memperkuat penanganan TB hingga tingkat desa, termasuk melalui pemeriksaan dini, pendampingan pasien, dan pencegahan penularan di lingkungan keluarga.

Sekda Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan keterlibatan pemerintah desa dan masyarakat diperlukan untuk mempercepat penemuan kasus sekaligus memastikan pasien mendapatkan pengobatan yang tepat.

“Penanggulangan TB tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi dan dukungan seluruh pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten/kota,” kata Sumarno baru baru ini.

Hingga 9 Oktober 2026, penemuan kasus TB di Jawa Tengah mencapai 68.617 kasus atau 65,08 persen. Sementara itu, persentase pasien yang mulai menjalani pengobatan mencapai 91,76 persen.

Baca Juga :  Karawitan Tergusur Hiburan Modern, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno Turun Tangan, Pelajar SD-SMP Jadi Tumpuan!

Keberhasilan pengobatan TB sensitif obat tercatat 84,07 persen, sedangkan TB resisten obat mencapai 79,54 persen. Adapun pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) baru mencapai 23,31 persen dari target 326.038 kasus.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan penanggulangan TB tidak berhenti setelah pasien ditemukan. Pencegahan terhadap orang yang memiliki kontak erat dengan pasien juga perlu diperkuat agar risiko penularan dapat ditekan.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mendorong integrasi pelacakan kasus aktif atau Active Case Finding (ACF) TB dengan layanan kesehatan primer. Langkah ini diharapkan mempercepat skrining, rujukan, pencatatan, hingga tindak lanjut pengobatan pasien.

Hingga 12 Oktober 2026, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Jawa Tengah telah melayani 18,8 juta orang. Sementara program Dokter Spesialis Keliling (Speling) telah dilaksanakan sebanyak 1.857 kali pelayanan dengan sasaran sekitar 131.500 orang.

Sumarno meminta pemerintah kabupaten dan kota meningkatkan dukungan melalui perencanaan, penganggaran, koordinasi lintas perangkat daerah, serta penguatan program sampai ke tingkat desa.

Dalam pelaksanaannya, desa dapat berperan melalui edukasi tentang gejala TB, membantu warga mengakses pemeriksaan kesehatan, mendukung pendampingan pasien, serta mendorong keluarga yang melakukan kontak erat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Baca Juga :  Syarat dan Cara Plus Jadwal Pengajuan Bantuan Masjid Musala, Tutup 25 Oktober

Meski demikian, data 421 Desa/Kelurahan Siaga TB tersebut merupakan angka tingkat Jawa Tengah.

Perluasan Desa Siaga TB menjadi salah satu langkah penting agar penanganan penyakit ini menjangkau masyarakat lebih dekat. Kecepatan menemukan kasus, kepatuhan menjalani pengobatan, dan pencegahan terhadap kontak erat menjadi bagian penting dalam upaya menekan penularan TB.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Benyamin Paulus Oktavianus, menegaskan pentingnya pemberian obat pencegahan bagi kontak erat yang memenuhi indikasi medis.

“Kontak erat itu harus mendapatkan obat pencegahan,” ujarnya. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.