Beranda Umum Nasional Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran Versi CELIOS: Amran Terbaik di Antara Menteri yang...

Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran Versi CELIOS: Amran Terbaik di Antara Menteri yang Masih Menjabat

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman didampingi Kasatgas Pangan dan Kepala Bapenas melakukan sidak Minyakita di Pasar Gede Solo, Selasa, (11/03/2025). Ando

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Capaian di sektor pertanian membawa Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman masuk jajaran teratas dalam rapor kinerja Kabinet Prabowo-Gibran versi Center of Economic and Law Studies (CELIOS). Namun, jika melihat menteri yang masih menduduki jabatan saat ini, Amran menjadi pemilik skor tertinggi dalam pemeringkatan tersebut.

Dalam laporan Rapor 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran yang dirilis pada 12 Oktober 2026, Amran meraih skor 140 dari survei terhadap 994 responden. Ia menempati peringkat kedua secara keseluruhan, di bawah Purbaya Yudhi Sadewa yang mengumpulkan skor 291.

Purbaya sendiri telah digantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan sejak 14 September 2026. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono berada di bawah Amran dengan skor 127.

Pemeringkatan CELIOS tersebut disusun menggunakan positional scoring rule yang mengadaptasi sistem Borda Count. Skor diperoleh dari akumulasi posisi pilihan responden terhadap nama-nama menteri, dengan memperhitungkan selisih antara penilaian terbaik dan terburuk.

Hasil tersebut merepresentasikan persepsi responden yang disurvei pada 2026, bukan pengukuran langsung atas seluruh capaian program masing-masing kementerian.

Di sektor pertanian, salah satu capaian yang menjadi sorotan adalah deklarasi swasembada beras oleh Presiden Prabowo Subianto pada 7 Januari 2026. Pemerintah menyatakan target tersebut berhasil dicapai lebih cepat dari rencana semula.

Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo bahkan menyebut program Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Amran “sangat-sangat berhasil”. Pernyataan itu disampaikan dalam Investor Daily Summit 2026 pada 7 Oktober.

Hashim menilai swasembada beras tercapai tiga tahun lebih cepat dari target 2029. Ia juga menyebut stok beras nasional mencapai 5,3 juta ton berdasarkan informasi yang diterimanya dari Amran.

Baca Juga :  Saor Siagian Desak KPK Jemput Paksa Nusron Wahid: Janji Kooperatif Cuma Omong Kosong

Indikator lain yang turut menjadi perhatian adalah Nilai Tukar Petani (NTP). Badan Pusat Statistik mencatat NTP September 2026 mencapai 131,11, angka tertinggi sepanjang pencatatan.

NTP merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. Angka tersebut menggambarkan daya tukar petani berdasarkan perkembangan harga hasil produksi dan kebutuhan yang mereka beli.

Di tingkat petani, harga gabah juga menjadi salah satu indikator penting. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, harga gabah kering panen bertahan di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram, dengan kisaran Rp6.700 hingga Rp7.600 per kilogram, menurut laporan Kompas.

Sudarso, petani asal Madiun yang mengelola lahan seluas dua hektare, menyebut harga Rp6.500 per kilogram membuatnya memperoleh “uang lebihan setelah dipotong biaya produksi”.

Pengalaman serupa disampaikan Helmantina, petani dari Pasaman, Sumatra Barat. Ia mengaku senang bermitra dengan Perum Bulog karena hasil panennya memiliki pasar yang jelas. Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Indramayu, H Tatang, pada awal 2026 menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo, Kementerian Pertanian, dan Bulog atas perhatian terhadap harga gabah.

Hashim juga menyoroti dampak kebijakan harga pembelian gabah dan pupuk terhadap kehidupan petani. Dalam Indonesia Sustainability Forum, ia menyatakan kenaikan harga pembelian gabah dari Rp4.000 menjadi Rp6.500 per kilogram serta pemangkasan biaya pupuk sebesar 20 persen membuat taraf hidup petani Indonesia berada pada level tertinggi sejak 1980-an.

Apresiasi terhadap kinerja Kementerian Pertanian turut disampaikan Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR pada 14 Agustus 2026. Saat itu, Prabowo memberikan apresiasi kepada Amran dan jajaran kementeriannya atas capaian swasembada yang disebutnya “diakui oleh dunia”.

Baca Juga :  Pertalite Disedot untuk Dijual Mahal, Solar Subsidi 300 Liter Ditimbun di Bali

Dalam pertemuan dengan jurnalis senior dan pakar di Hambalang pada 6 September 2026, Prabowo juga menyebut target swasembada empat tahun dapat dipercepat berkat tim pertanian yang dipimpin Amran.

Dukungan lainnya datang dari Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto. Dalam rapat kerja pada 1 September 2026, Titiek menyampaikan apresiasi atas capaian swasembada delapan komoditas pangan strategis. Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Rokhmin Dahuri, sebelumnya juga menyebut swasembada beras sebagai tonggak penting.

Meski demikian, posisi Amran dalam rapor CELIOS perlu dibaca sesuai konteksnya. Skor 140 menunjukkan posisi penilaian responden terhadap para menteri, sedangkan capaian swasembada, harga gabah, dan NTP merupakan indikator berbeda yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan sektor pertanian.

Dengan demikian, hasil pemeringkatan tersebut menempatkan Amran sebagai menteri aktif dengan skor tertinggi di antara nama-nama yang disebutkan dalam laporan, di tengah berbagai apresiasi terhadap kinerja sektor pertanian selama pemerintahan Prabowo-Gibran. [*]   Disarikan dari sumber berita medi daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.