Beranda Daerah Wonogiri Dampak Ngeri Karhutla Wonogiri, Warga Takut Serangan Monyet Kian Menjadi

Dampak Ngeri Karhutla Wonogiri, Warga Takut Serangan Monyet Kian Menjadi

Monyet
Ilustrasi monyet. AI generated

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Wonogiri tak hanya menyisakan lahan hangus. Dampak lain yang mulai dikhawatirkan warga adalah pergerakan koloni monyet atau kera ekor panjang yang kehilangan habitat dan sumber makanan di kawasan hutan.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi membuat monyet bergerak semakin dekat ke lahan pertanian, perkebunan hingga permukiman warga.

Apalagi, puncak musim kemarau membuat sumber air dan bahan makanan alami di kawasan hutan semakin terbatas. Ketika habitat terbakar dan makanan sulit ditemukan, koloni monyet berpeluang mencari sumber makanan baru di luar kawasan hutan.

“Kalau hutannya terbakar dan makanan di sana semakin sulit, kami khawatir monyet turun ke kebun dan mendekati rumah warga. Selama ini saja sudah sering masuk ke lahan pertanian,” kata seorang warga di wilayah Kecamatan Giriwoyo Wonogiri, Eni, Senin (28/9/2026).

Fenomena monyet masuk ke lahan pertanian sebenarnya bukan persoalan baru di Wonogiri. Warga di sejumlah kecamatan telah lama menghadapi gangguan kera ekor panjang yang turun dari kawasan perbukitan atau hutan untuk mencari makanan.

Bahkan, dalam sejumlah kejadian, monyet tidak hanya berada di kebun. Hewan tersebut bisa mendekati pekarangan hingga masuk ke dalam rumah warga ketika menemukan sumber makanan.

Warga di Kecamatan Wonogiri misalnya, mengaku keberadaan monyet di sekitar lahan pertanian dan rumah sudah menjadi persoalan yang harus diantisipasi, terutama ketika kondisi hutan semakin kering.

“Kalau musim kemarau biasanya lebih sering kelihatan. Kadang turun ke kebun mencari buah atau makanan. Kalau habitatnya terbakar, kami takut jumlah yang turun semakin banyak,” ujar Srini.

Baca Juga :  32 Sekolah di Wonogiri Gelar Pemilihan Ketua OSIS, 17.871 Siswa Jadi Pemilih

Kekhawatiran serupa muncul dari wilayah Wonogiri bagian selatan lainnya. Warga Kecamatan Jatiroto menyebut monyet kerap bergerak di sekitar kawasan hutan yang terbakar dan berbatasan dengan lahan pertanian.

“Yang dikhawatirkan bukan hanya tanaman rusak. Kalau sampai masuk rumah, warga juga repot mengusirnya. Apalagi kalau datang berkelompok,” kata dia.

Di Kecamatan Batuwarno, warga juga menghadapi persoalan serupa. Lahan pertanian yang berada dekat kawasan perbukitan menjadi salah satu lokasi yang berpotensi didatangi monyet ketika sumber makanan di habitat alaminya menipis.

“Kalau makanan di hutan masih ada mungkin tidak turun terlalu jauh. Tapi sekarang kemarau panjang, ditambah ada lahan yang terbakar. Kami khawatir monyet mencari makan sampai ke permukiman,” ujar Heru.

Kekhawatiran tersebut juga dirasakan warga di wilayah Wonogiri timur seperti Jatisrono dan Jatipurno. Monyet yang bergerak mendekati lahan warga bisa menyebabkan tanaman buah, jagung, ketela maupun hasil pertanian lainnya rusak atau habis dimakan.

Persoalannya, dampak karhutla terhadap satwa liar tidak berhenti ketika api padam. Hilangnya vegetasi dan sumber pakan dapat memaksa satwa mencari lokasi baru yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.

Karena itu, potensi meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar perlu menjadi perhatian selama musim kemarau.

Jika karhutla benar-benar mencapai ratusan hektare seperti yang diperkirakan, kawasan habitat satwa yang terdampak tentu semakin luas. Koloni monyet yang kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan dapat berpindah mengikuti kondisi lingkungan.

Baca Juga :  15 KK di Wonogiri Emoh Terima Bansos Lagi

Bagi petani, ancaman tersebut bukan perkara kecil. Tanaman yang dirawat berbulan-bulan bisa rusak dalam waktu singkat apabila didatangi kawanan monyet.

Warga berharap penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga memperhitungkan dampak lanjutan terhadap satwa dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.

Sementara jika monyet mulai masuk ke permukiman dan sulit ditangani, warga sebaiknya melaporkan kepada petugas terkait agar penanganannya tidak membahayakan manusia maupun satwa.

Dengan kemarau yang masih berlangsung, warga Wonogiri kini menghadapi dua persoalan sekaligus: menjaga lahan dari ancaman kebakaran dan mengantisipasi satwa liar yang kehilangan habitat.

Karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan api dan lahan terbakar. Ketika hutan kehilangan tutupan dan sumber pangan, dampaknya bisa bergerak sampai ke kebun, pekarangan, bahkan masuk rumah warga. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.