Beranda Daerah Sragen Wabah Racun WKO Meluas ke Karamba Sragen,  Ribuan Ikan Ditemukan Mendadak Jadi...

Wabah Racun WKO Meluas ke Karamba Sragen,  Ribuan Ikan Ditemukan Mendadak Jadi Bangkai

1346
BAGIKAN

Ribuan ikan di karamba WKO mengambang mati mendadak menyusul wabah air putih beracun yang melanda Sabtu (7/7/2018). Foto/Wardoyo

SRAGEN-  Cuaca ekstrem yang memicu munculnya wabah upwelling atau air putih beracun di perairan Waduk Kedung Ombo (WKO) meluas ke wilayah Sragen. Sedikitnya 1 ton ikan di karamba wilayah Ngasinan, Ngargotirto juga ditemukan mati mendadak dalam dua hari terakhir.

Salah satu petani karamba asal Boyolayar, Ngargotirto, Sumberlawang, Anton Setiawan (27) menuturkan pasca kematian mendadak di karamba Bulu, Wonoharjo, Boyolali dua hari lalu, wabah serupa juga menjalar ke karamba milik petani Ngasinan, Ngargotirto.

“Kalau di wilayah sini, kemarin sekitar 1 ton yang mati. Makanya sekarang kami siaga siang malam. Kalau air putih muncul,  harus segera digeser. Kalau sampai kena air putih beracun itu, nggak sampai 5 menit ikan langsung mati, ” paparnya Sabtu (7/7/2018).

Anton menuturkan wabah upwelling di wilayah Ngasinan, memang tak separah di wilayah Bulu, Wonoharjo, Boyolali. Karamba miliknya yang ada di wilayah Bulu, juga sebagian terkena serangan air beracun itu.

Kematian ribuan ikan itu juga dibenarkan pedagang ikan WKO wilayah Boyolayar,  Ngargotirto. Pak To, salah satu pedagang ikan WKO menuturkan wabah kematian ikan memang meluas sampai di wilayah Ngasinan pada dua hari lalu.

Baca Juga :  6000 Warga Padati Pentas Pinastika Music Heritage di Gondang Sragen. Lagu Sayang Via Vallen dan Suket Teki Duo Bambang Jadi Kejutan 

“Kemarin banyak yang kena juga di wilayah Ngasinan. Kakau sekarang sudah agak reda, ” terangnya.

Anton menambahkan jumlah petani karamba di wilayah Boyolayar mencapai 26an karamba. Ikan yang dipiara rata-rata jenis nila, tombro dan lele.

“Karamba saya ada sekitar 5 ton ikannya. Sudah agak sedikit karena sebagian besar sudah dipanen sebelum lebaran kemarin, ” imbuh Anton. Wardoyo