loading...
Loading...
Istimewa

SOLO- Badan Perkreditan Rakyat (BPR) belum maksimalkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Padahal, di era digital seperti saat ini, lingkungan dan perilaku konsumen telah berubah seiring perkembangan teknologi informasi khususnya internet.

Menurut Pengamat Ekonomi Kota Solo sekaligus Direktur Amalia Consulting, Suharno, belum banyak lembaga keuangan khususnya BPR yang memanfaatkan internet dan media sosial sebagai sarana memasarkan produknya seperti tabungan, deposito maupun pengucuran kredit.

“Ini sangat disayangkan, padahal berdasarkan data terbaru pengguna internet di Indonesia sekitar 130 juta. Sedangkan jumlah hp sekitar 460 juta. Artinya setengah dari penduduk Indonesia mengakes internet dan setiap orang memiliki lebih dari 2 hp. Dan belum semua pelaku usaha,  khususnya BPR memanfaatkan internet dan media sosial untuk sarana promosi,” urainya usai menjadi narasumber workshop Pelayanan dan Pemasaran Sepenuh Hati Berbasis Kearifan Lokal dan Spiritual, yang diselenggarakan PD BPR demak,  di Sambi Resort,  Kaliurang, Jogyakarta, Jumat-Minggu,  (27-29 Juli 2018).

Baca Juga :  Polisi Amankan Ratusan Sepeda Motor di Mapolresta Solo karena Berknalpot Brong

Terkait hal itu, Suharno snagat berharap agar para pimpinan BPR tidak alergi terhadap media sosial. Dalam hal ini, pihak pimpinan BPR dapat bekerjasama dengan para karyawannya.

“Jika ada kekhawatiran pimpinan terhadap karyawannya yang hanya akan main media sosial saja, itu wajar. Bisa saja tidak produktif, maka karyawan harus dibekali pengetahuan dan ketrampilan, serta etika memanfaatkan media sosial. Agar media sosial bisa menjadi sarana ampuh dan produktif untuk meningkat jumlah nasabah yang berkualitas ” tukasnya. Triawati PP

Baca Juga :  Hari Kartini, The Sunan Hotel Solo Hadirkan 3 Perempuan dalam Talkshow  “ EMPOWER A WOMAN – EMPOWER A NATION “
Loading...