loading...
Loading...
Dok IAIN Salatiga

SALATIGA – “Siapa yang punya uang duapuluh ribu? Saya akan tukar dengan seratus ribu,” demikian CEO Javapuccino Indonesia, Muh. Asmui Kammuri memberikan contoh kepada ratusan calon wisudawan IAIN Salatiga tentang pentingnya menangkap peluang, Jumat (19/10/2018).

Kesuksesannya membangun bisnis kuliner memang tidak terlepas dari kecepatannya menangkap peluang di sektor ini. Pria muda peraih predikat Wirausaha Muda Terbaik 2011 dari Menteri Negara Koperasi dan UKM RI ini mengisahkan bagaimana ia jatuh bangun membangun bisnis usai lulus program diploma dari IAIN Salatiga yang pada tahun 2006 masih berstatus sekolah tinggi agama Islam negeri (STAIN).

“Cita-cita saya ingin lanjut kuliah di UIN Jakarta. Di sana saya bertemu teman yang mengizinkan saya tinggal gratis di indekosnya,” ungkap ayah beranak tiga ini di hadapan 738 calon wisudawan IAIN Salatiga, sebagaimana rilis yang dikirimkan Sika Nurindah ke Joglosemarnews.

Kondisi keluarga yang saat itu pas-pasan membuat dirinya harus berjuang untuk hidup sekaligus berkuliah di Ibu Kota. Berbekal ijazah diploma yang dimilikinya ia bekerja sebagai guru bimbingan belajar di sekitar Bintaro, Pondok Indah, dan Ciputat. Namun rupanya kesibukannya mengajar mempengaruhi kuliahnya. Ia mendapatkan teguran keras dari dosennya. “Akhirnya saya berhenti,” paparnya.

Tak lagi punya pekerjaan, ia mendapatkan ide untuk menjual kerupuk yang sering kali dikirimkan orangtuanya. “Saya lari ke pasar. Puluhan tukang sayur menjadi teman saya. Satu, dua dus terjual,” imbuh pria berusia 35 tahun ini. Selain kerupuk, ia juga sering mendapatkan kiriman telur asin. Alhasil, ratusan warung makan sepanjang jalan ia biasa mengajar bimbel dulu menjadi mitranya.

Baca Juga :  SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta Terima Tim Visitasi Lomba Sekolah Sehat

“(Dari bisnis itu) saya jadi MKB alias mahasiswa kaya baru. Sudah punya belasan karyawan, punya motor meski masih nyicil,” lanjut Asmi. Usaha tak selalu berjalan mulus, di akhir tahun 2008 usahanya bangkrut karena sebagian dananya terserap untuk menjalankan bisnis telepon seluler.

Kegagalan sekali lagi tak membuatnya berhenti maju. Usai sharing dengan ibundanya, ia dikenalkan dengan seseorang yang mengeluti bisnis berjualan teh. Dari situ Asmi terinspirasi untuk berjualan es teh. Bermodal uang Rp 1 juta, ia menyewa tempat di sebuah gang kecil di sekitar kampus UIN Jakarta. “Hari pertama seharian berjualan saja dapat Rp 28.000. Hari kedua, saya turunkan harga jual. Biasanya dijual Rp 3.000 saya jual Rp 2.000. Di hari kedua jualan itu saya bisa mendapatkan uang Rp 700.000. Dari itu saya langsung semangat,” papar dia.

Yakin dengan bisnis baru yang digelutinya, ia kembali menemui dosen yang dulu pernah mengusirnya dari kelas lantaran terlambat masuk. “Beliau menjadi mitra pertama saya di bisnis ini. Dari 2008 sampai 2010 saya sudah punya 100 gerai,” ceritanya.

Berbagai upaya untuk mengembangkan bisnis ia lakukan. Menjadi juara 1 Wirasusaha Muda Mandiri 2010 kategori boga menjadi titik balik bagi Asmi. “Saya waktu itu menangkap peluang. Waktu itu saya pionir untuk francise lokal…bagi saya penghargaan itu titik balik untuk mengembangkan usaha secara cepat…Setiap minggu saya diajak keliling Bank Mandiri. Bahkan sampai luar negeri, hotal dibayari, uang saku dikasih,” kenangnya

Baca Juga :  Kepala SDIT Nur Hidayah Juarai Best Practice 2019 Tingkat Provinsi Jateng

Hingga kini, Asmi telah memiliki 390 gerai kuliner dengan beragam brand seperti Solopuccino Coffee, Chicken Day Fastfood, Daycinno Coffee & Co dan Bebek Kanoman. “Jumlah itu 36-nya resto. Sedang yang lain gerai take away,” jelas dia ketika ditemui usai acara.

Di acara Pembekalan Calon Wisudawan Periode Oktober IAIN Salatiga itu, Asmi berpesan pentingnya memanfaatkan peluang. Termasuk di era milenial saat ini media sosial menjadi sarana berbisnis yang efektif.

“Kerja keras, kerja cerdas kerja tuntas dan kerja ikhlas praktikkan di kehidupan kalian. Insyaalah goal,” tutup dia.

Tak hanya itu dia juga mengingatkan untuk tidak melupakan keluarga. Baginya, kesuksesannya tak lepas dari doa Ibu. “Keluarga itu sangat penting terutama Ibu. Sampai sekarang usaha saya jadi seperti bisnis keluarga. Semua saya libatkan,” tutup pengusaha kelahiran Semarang ini.

Sementara itu Wakil Rektor III IAIN Salatiga, Moh Khusen dalam sambutannya mengungkapkan acara pembekalan diharapkan bisa memberika motivasi bagi calon wisudawan.

“Narasumber kali ini sangat inspiratif…Selanjutnya saya berharap kalian menjadi alumni yang rahmatan lil alamin,” tutur dia. #suhamdani

Loading...