loading...
Loading...
Ketua Komite SBBS Gemolong Sragen, Agung Purnomo saat menunjukkan surat keputusan Kadisdikbud Pemprov Jateng soal penutupan SMAN SBBS, Sabtu (18/5/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Nasib tragis harus dialami SMAN Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) Gemolong Sragen. SMAN yang pernah menyandang predikat sekolah unggulan berstandar internasional kebangaan Sragen itu kini harus menghadapi kenyataan pahit.

Sekolah SMAN yang pernah bekerjasama dengan Pasiad Turki itu kini ternyata diam-diam sudah ditutup. Kabar mengejutkan itu terbongkar ketika Komite Sekolah menyambangi pihak sekolah untuk mengungkapkan aspirasi wali murid dan masyarakat, Sabtu (18/5/2019).

Ketua Komite SMAN SBBS Gemolong, Agung Purnomo mengaku kecewa berat dengan kebijakan pemerintah provinsi dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang ternyata telah menutup operasional SMAN SBBS Gemolong.

Penutupan yang menurutnya dilakukan sepihak itu diketahui dari Surat Keputusan Penutupan yang diterbitkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemprov Jateng Oktober 2017.

Surat itu ditandatangani Kadisdikbud Jateng wakti itu, Gatot Bambang Hastomo. Dalam surat itu disebutkan SMAN SBBS Gemolong ditutup karena sejumlah alasan.

Diantaranya SMAN SBBS tidak memiliki aset tanah, kemudian tidak memiliki guru PNS, dan sejak 2017/2018 sudah tidak memiliki peserta didik.

Agung juga menunjukkan salinan keputusan dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan RI soal penutupan SMAN SBBS Gemolong Sragen No:512/MPK.D/KS/2017.

Pihaknya menyayangkan keputusan penutupan SMAN SBBS Gemolong itu. Sebab selain tanpa pembicaraan dengan internal komite dan guru-guru, penutupan itu juga telah memupus harapan siswa dan orangtua yang masih menghendaki sekolah di SMAN SBBS Gemolong.

“Apalagi fasilitas, sarana prasarana di sekolah ini lebih dari sekolah SMA lain yang ada di Sragen. Baik ruangan, laboratorium dan lainnya. Dari sisi prestasi juga. Makanya ketika tahu SMA SBBS ditutup oleh Pemprov itu, kami sangat kecewa berat,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM, Sabtu (18/5/2019).

Baca Juga :  Bantai Singapura 5-0, 2 Pesepakbola Muda Sragen Ikut Antar Kesebelasan Jateng Raih Juara Olimpiade Khusus 

Mewakili suara komite dan wali murid, Agung menyesalkan penutupan itu. Sebab sejak dibangun pemerintah pusat pada 2008, selama ini SMAN SBBS banyak melahirkan ratusan gelar dan prestasi dari regional, nasional hingga internasional.

Menurutnya penutupan itu sangat kontradiktif dengan komitmen pemerintah yang selama ini selalu berkoar menempatkan pendidikan sebagai sektor prioritas pembangunan.

“Kami enggak habis pikir, katanya pemerintah memprioritaskan pendidikan. Tapi mengapa sekolah yang sudah bagus, banyak berprestasi, menjadi kebanggaan Sragen, Jateng bahkan Indonesia, malah ditutup sepihak seperti ini. Eman-eman kan, sekolah yang dibangun menghabiskan banyak dana rakyat, akhirnya terbiarkan terbengkalai seperti ini,” urai Agung.

Padahal, sebagian besar siswa SMP SBBS yang saat ini duduk di tingkat akhir atau kelas IX, banyak yang ingin melanjutkan lagi di SMAN SBBS. Kemudian para orangtua siswa, guru serta Kades di tiga kecamatan sekitar Gemolong, juga sudah menyatakan dukungan agar SMAN SBBS bisa kembali dibuka.

“Harapan kami SMA SBBS segera dibuka lagi di tahun ajaran baru nanti. Entah tetap dengan nama SBBS atau nama lain, terserah. Ini aset berharga dan ini berkaitan dengan nasib pendidikan generasi bangsa juga,” tegas Agung.

Kondisi laboratorium IPA di SMAN SBBS Gemolong yang tampak lengang dan lama mangkrak karena penutupan SMA oleh pemprov Jateng. Foto/Wardoyo

Salah satu guru honorer di SMP-SMA SBBS Gemolong, Farhan Walidina menyampaikan sudah dua tahun terakhir, SMAN SBBS tidak membuka pendaftaran siswa baru. Sebagai guru yang selama ini mengajar di situ, pihaknya dan guru lain sangat berharap ada kebijakan dari pemerintah untuk membuka kembali SMAN SBBS Gemolong.

Baca Juga :  Sekda Jateng Minta Daerah Kelola DAK Sesuai Aturan. Ingatkan Semua PNS Bakal Diminta Laporkan Harta Kekayaan! 

“Sangat eman bangunan kelas yang megah dan sarana lengkap akhirnya mangkrak. Padahal SMA Semesta Semarang saja kalau praktik kadang sering datang ke lab sini,” tukasnya diamini guru lain.

Kepala SMPN SBBS Gemolong, Agung Jatmiko menuturkan awalnya kompleks SBBS Gemolong memang didirikan untuk jenjang paralel yakni SD, SMP hingga SMA. Namun sejak adanya pelimpahan kewenangan SMA ke Pemprov, kewenangan pengelolaan SMAN SBBS sudah di tangan Pemprov.

Pihaknya hanya tinggal menangani SMP saja.

Terkait aspirasi dan desakan komite serta guru agar dibuka kembali jenjang SMA, pihaknya tak bisa berkomentar karena hanya pelaksana teknis untuk SMP saja.

“Kalau memang (pembukaan) itu bermanfaat, kenapa tidak. Ini aspirasi masyarakat juga. Tapi secara keseluruhan dan regulasi kami juga tidak memahami karena kewenangan SMA ranahnya ada di Provinsi,” tandasnya. Wardoyo

 

Loading...