JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Terus Meroket, Jumlah ODP Corona Sragen Tambah 10 Orang, Jumlah PP Naik 511 Orang Jadi 2.216. Kesadaran Karantina Rendah, Bupati Sampai Ingatkan Nek Nggak Bisa Bakdo, Nggak Bisa Sungkem Wong Tuwo Lho!

Sekda Tatag Prabawanto dan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Foto kolase/Wardoyo

loading...
Sekda Tatag Prabawanto dan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Jumlah kasus corona virus di Kabupaten Sragen terus menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga Sabtu (28/3/2020) petang, jumlah angka pelaku perjalanan (PP) dari luar kota yang wajib dipantau, orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) di Sragen menunjukkan tren peningkatan yang mencemaskan.

Data terbaru yang dilansir Satgas Percepatan Penanganan Covid-19, jumlah PP di Sragen sampai pukul 17.00 WIB tadi melonjak menjadi 2.216 orang.

Ketua Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sragen, Tatag Prabawanto mengakui sejak adanya arus pemudik yang pulang ke kampung halaman dalam beberapa hari terakhir, terjadi lonjakan kasus baik pelaku perjalanan (PP), orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP) corona di Sragen.

Sampai hari ini, Sabtu (28/3/2020) petang, jumlah PP di Sragen sudah mencapai 2.216 orang, 73 ODP dan 5 PDP.

Padahal sehari sebelumnya, jumlah PP baru 1.705 orang, 63 ODP dan 5 PDP. Ia tak menampik lonjakan itu salah satunya akibat arus pemudik dari kota-kota besar di Jabodetabek sekitarnya yang tiba di Sragen karena di kota mereka bekerja sudah menerapkan semi lockdown.

Baca Juga :  Update Corona Sragen 30 Mei, ODP Tambah 3, PDP Tambah 2. Total 32 Warga Positif, 24 Sembuh, Total 18 Meninggal Dunia

“Maka dari itu, kami meminta semua pendatang atau pemudik yang baru tiba dari luar kota, harus melapor dan periksa ke Puskesmas. Sehingga bila ada gejala bisa terdeteksi dan ditangani. Lalu ada gejala atau tidak, semua pendatang atau PP yang baru pulang dari perjalanan luar kota maupun ODP, harus isolasi mandiri selama 14 hari di rumah. Ini demi kepentingan dan keamanan bersama,” tandasnya.

Senada, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyampaikan lonjakan PP itu tak lepas dari lonjakan pemudik yang tiba dari luar kota.

Menurutnya, saat ini yang perlu dipikirkan adalah bagaimana meningkatkan kesadaran para PP yang baru pulang itu untuk mau melapor, melakukan pemeriksaan dan karantina mandiri selama 14 hari.

Sebab, pantauannya di lapangan, masih banyak PP yang tidak melapor, masih keluar rumah dan berinteraksi sosial.

” Saya sedang berfikir wacana bagaimana untuk menyadarkan mereka. Hari ini saya keliling ke Sukodono dan Kedawung ternyata pantauan saya bahwa pemudik yang pulang banyak yang belum melakukan imbauan untuk karantina mandiri. Padahal mereka pulang dari Jakarta dan kota besar lainnya,” paparnya ditemui di sela penyemprotan desinfektan di Pasar Nglangon, Sabtu (28/3/2020).

Baca Juga :  Resmi Gandeng Pengusaha Asal Sambungmacan, Sukiman Deklarasikan KITO Untuk Lawan Petahana di Pilkada Sragen 2020. Sama-sama Bertekad Buat Perubahan Sragen Lebih Baik!

Ia menilai banyak pemudik utamanya yang muda-muda tidak menyadari bahwa virus corona terkadang bersemayam tanpa memperlihatkan gejala.

Pada beberapa kasus, orang yang kelihatannya sehat, ternyata diketahui positif corona tanpa menunjukkan tanda.

“Dan itu yang bisa menjadi carrier atau pembawa virus. Makanya imbauan social distancing dan karantina mandiri itu wajib dilaksanakan. Tadi saya di Sukodono sampai bilang, kalau nggak bisa jaga jarak, kita nggak bisa bakdo lho, nggak bisa sungkem karo wong tuwo lho ndah sedihe. Makanya perlu kerja keras,” tuturnya.

Menurutnya, belum tertibnya masyarakat melakukan social distancing dan karantina mandiri itu menjadikan dilema tersendiri bagi Pemkab.

“Saya juga nggak ngerti harus bagaimana lagi. Kalau tidak ditutup sulit juga masyarakat punya kesadaran mandiri. Tapi kalau ditutup (lockdown) beberapa hari tentu perekonomian akan macet. Ini dilema yang harus kami atasi di daerah,” terangnya. Wardoyo