JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Bea Cukai Yogyakarta Musnahkan 2.603 Paket Barang Impor Ilegal

Petugas memusnahkan barang yang menjadi milik negara hasil penindakan di kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Dan Cukai Tipe Madya Pabean B Yogyakarta, Rabu (7/10/2020) / tribunnews
madu borneo
madu borneo
madu borneo

Petugas memusnahkan barang yang menjadi milik negara hasil penindakan di kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Dan Cukai Tipe Madya Pabean B Yogyakarta, Rabu (7/10/2020) / tribunnews

SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean (TMP) B Yogyakarta memusnahkan sebanyak 2.603 paket barang impor ilegal yang terhimpun dari 2016 hingga 2020.

Kepala KPPBC TMP B Yogyakarta, Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang mengatakan, seluruh barang yang dikumpulkan dari tahun 2016 hingga 2020 tersebut senilai Rp 1,2 miliar.

Ada banyak barang yang dimusnahkan, mulai dari alat bantu seks, alat kesehatan, kosmetik, obat-obatan, pakaian bekas, sparepart kendaraan, senjata tajam, handphone, kamera, dan lain-lain.

“Paling banyak obat-obatan, kosmetik, sex toys, ada juga produk-produk makanan. Ada banyak item yang memang tidak memenuhi ketentuan impor,”katanya, Rabu (07/10/2020).

Baca Juga :  Bahas Digitalisasi Aksara Jawa, Menkominfo Temui Sri sultan HB X

Selain karena tidak memenuhi ketentuan impor, barang cegahan Bea Cukai Yogyakarta tersebut memang dilarang. Ada pula yang tidak diurus oleh pemiliknya.

“Misalnya barang bekas, barang bekas itu tidak bisa masuk Indonesia. Kemudian pornografi, jelas tidak boleh. Ada airsoft gun, itu kan perlu izin dari Polri, alat kesehatan juga perlu izin dari Kemenkes RI,” sambungnya.

Ia melanjutkan, kebanyakan barang impor tersebut adalah untuk diperdagangkan.

Sedangkan untuk negara asal, barang impor ilegal tersebut paling banyak berasal dari Tiongkok.

Baca Juga :  Ruas Selokan Mataram di Yogya Amblas, Air Meluap Menggenangi Areal Persawahan

Namun ada pula barang dari Amerika dan Eropa.

“Handphone itu maksimal 2 unit, tetapi ada yang memasukkan 10 unit. Tidak mungkin kalau dipakai sendiri. Ada sepatu juga, jumlahnya banyak. Memang kebanyakan untuk diperdagangkan,” lanjutnya.

Ia pun mengimbau masyarakat yang hendak mengimpor barang untuk membaca ketentuan.

Masyarakat bisa mengakses melalui website Bea Cukai.

“Mungkin masyarakat kurang paham, sehingga perlu mempelajari kentuan impor. Pelajari dulu ketentuannya, sehingga jangan sampai barang sudah sampai sini, tetapi barang tidak bisa dikeluarkan,”ujarnya. 

www.tribunnews.com