JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

BPPTKG Temukan Munculnya Rekahan Baru di Dalam dan Luar Kawah Merapi

Penampakan Gunung Merapi Desa Candibinangun, Pakem dan Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Sabtu (28/11/2020) / tribunnews

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Menemukan adanya crack atau rekahan baru di dalam dan di luar kawah Gunung Merapi.

Menurut Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida,  data tersebut merupakan hasil pengamatan yang dilakukan pada 4-10 Desember 2020.

Hanik menjelaskan, hal itu ditemui dari pengamatan menggunakan satelit.

Selain itu, terkonfirmasi pula adanya perubahan morfologi yang ada di dalam puncak Gunung Merapi.

Di bagian tengah puncak, terdapat pengangkatan, rekahan-rekahan, dan juga turunan.

“Dari semua perubahan morfologi ini menunjukkan terus adanya aktivitas Gunung Merapi,” ujar Hanik dalam siaran informasi BPPTKG, Jumat (11/12/2020).

Lebih lanjut, kata Hanik, saat ini kondisi rekahan ada yang memanjang dan ada yang melebar.

Hal itu menunjukkan intensitas kejadian guguran.

Saat ini, guguran masih sering terjadi ke Kali Senowo, Kali Lamat, dan Kali Gendol dengan jarak 3 kilometer.

Baca Juga :  Sultan HB X Tuding Adik Tirinya Makan Gaji Buta, GBPH Yudhaningrat: Honor Hanya Cukup Makan Kuda Saja?

“Karena status masih tinggi, status juga masih sama, yakni siaga,” tegas Hanik.

Sementara itu, wilayah barat-barat laut menjadi wilayah yang berpotensi terancam bahaya erupsi berdasarkan data deformasi dan perubahan morfologi lereng sektor tersebut.

“Terjadi sedikit penurunan aktivitas seismik dan deformasi, namun secara jangka panjang masih menunjukkan aktivitas yang tinggi,” ucap Hanik.

Selama pekan lalu (4-10 Desember 2020) kegempaan Gunung Merapi tercatat 232 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 1.692 kali gempa Fase Banyak (MP), 5 kali gempa Low Frekuensi (LF), 256 kali gempa Guguran (RF), 209 kali gempa Hembusan (DG), dan 2 kali gempa Tektonik (TT).

“Intensitas kegempaan pada minggu ini lebih rendah dibandingkan minggu lalu,” imbuh Hanik.

Deformasi atau penggembungan tubuh Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan electronic distance measurement (EDM) pada minggu lalu menunjukkan adanya laju pemendekan jarak sebesar 9 cm/hari.

Baca Juga :  Pergub DIY No 1/2021 Berbuah Unjuk Rasa, Sultan: Silakan Gugat di PTUN Saja

Secara visual, cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi hari, sedangkan siang hingga malam hari berkabut.

 

Asap berwarna putih, ketebalan tipis hingga tebal dengan tekanan lemah.

Tinggi asap maksimum 400 meter teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Selo pada 4 Desember 2020 pukul 10.30 WIB.

Guguran teramati dari Pos Babadan dengan jarak luncur kurang lebih 200 m ke arah hulu Kali Lamat di sektor barat pada 8 Desember 2020 pukul 09.17 WIB.

“Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental maka disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi, sehingga status aktivitas masih dalam tingkat “SIAGA”. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dan awanpanas sejauh maksimal 5 kilometer,” tandas Hanik.

www.tribunnews.com