JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Subhanallah, Arwah Ibu Buruh Ngasak Korban Tewas Kecelakaan Bus Haryanto Asal Sragen Sempat 2 Kali Datangi Putrinya Dalam Mimpi. Ngotot Bilang Belum Meninggal, Pesannya Nyesek Banget!

Nita bersama dua adiknya yang paling kecil. Foto/Wardoyo
PPDB
PPDB
PPDB

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Masih ingat kecelakaan maut yang merenggut nyawa janda Sutarti (49) warga Dukuh Taraman RT 12/4, Desa Taraman, Sidoharjo, Sragen oleh Bus PO Haryanto di Kebakkramat, Karanganyar, beberapa waktu lalu?

Meski dua bulan berlalu, hingga kini insiden itu masih menghadirkan kisah haru bagi 5 anak almarhumah.

Sebab Lebaran ini bakal menjadi lebaran pertama tanpa kehadiran ibu tercinta mereka. Tak heran, hal itu menghadirkan kesedihan mendalam terutama bagi putri sulung, Nita Wulantari (23) yang kini menjadi pengganti ibu sekaligus orangtua bagi adik-adiknya.

Ditemui di rumah kecil mereka, Nita mengaku sangat sedih melewati bulan ramadhan tanpa ibunya.

“Sedih banget Mas. Saya merantau sudah lama gak pulang, pulang baru sebentar mendekati Lebaran malah ada kejadian itu (ibunya meninggal kecelakaan),” paparnya kepada Jogoosemarnews.com, Jumat (7/5/2021).

Nita menuturkan kehilangan ibunya juga membangkitkan kenangan keluarga saat melewati ramadhan.

Ia begitu terkenang ketika sering buka puasa bareng dan dibangunkan oleh ibunya untuk sahur bersama. Kemudian mendekati Lebaran, biasanya ibunya tak lupa menawarkan anak-anaknya untuk membeli baju baru.

Saking sayangnya sama anak-anaknya, bahkan tiap mendekati Lebaran, ibunya rela tak beli apa-apa asal anaknya bisa beli baju baru.

“Terutama yang masih kecil-kecil mesti ditanya satu-satu pingin baju apa. Yang kecil-kecil kalau mau Lebaran diajak ke pasar dibelikan baju. Ibu sangat sayang sama anak-anaknya,” urai Nita sembari matanya berkaca-kaca.

Menjelang Lebaran ini, Nita pun berusaha tak menghilangkan tradisi sang ibu.

Beberapa hari lalu, ia sudah memenuhi tradisi ibunya membelikan baju baru untuk lebaran bagi ketiga adiknya yang paling kecil.

Nita juga mengaku hingga kini masih teringat sosok ibunya. Bahkan ia kadang trenyuh jika si bungsu, yang masih berusia 6 tahun mencari-cari ibunya.

“Yang paling kecil ini belum tahu kalau ibunya sudah nggak ada. Kadang dia pas nonton TV tiba-tiba ingat terus nanya ibu sudah nggak ada ya Mbak, dikubur di sana. Yang paling kecil ini belum tahu arti meninggal,” terangnya.

Nita juga mengungkap sejak dua bulan ditinggal sang ibu, ia dua kali bermimpi didatangi arwah almarhumah ibunya.

Yang pertama menjelang 7 hari, mendadak ibunya datang dalam mimpi. Saat itu ibunya pulang dari nyari gabah atau ngasak.

“Mau 7 harinya itu, dalam mimpi ibu tiba-tiba pulang dari nyari gabah. Dia nyari anaknya yang nomor 4 (Catur). Nanya ke Mas Catur, ibu pulang sini peluk ibu. Dia mondok dan anak paling disayang,” urai Nita sembari menghela nafas.

Yang kedua, ibunya kembali hadir dalam mimpi beberapa waktu berselang. Dalam mimpi itu, ibunya tiba-tiba kembali hadir dan mengatakan dirinya masih hidup dan ingin menemani anak-anaknya.

“Waktu itu ibuk bilang saya nggak meninggal. Ibuk masih hidup pingin ngancani anak-anake. Saya bilang Buk mboten, jenengan mpun sae. Adik-adik nggak usah dipikirkan, Insya Allah kula tanggungjawab. Mimpi yang kedua ini sudah menjelang pagi,” urainya.

Kini, cerita indah dan kasih sayang ibunya hanya tinggal kenangan. Nita yang sudah bersuami dan punya anak balita itu, kini harus berjuang membesarkan empat adiknya.

Saat ditanya kenangan Lebaran, Nita mengaku biasanya ibunya selalu memasak opor ayam, tahu kupat dan rica-rica saat Lebaran.

Menu itu menjadi menu wajib yang dihidangkan untuk anak-anaknya. Bahkan ia masih ingat betul saking ingin menyenangkan anak-anaknya, ibunya sebisa mungkin selalu menyediakan menu itu sekalipun kadang punya uang terbatas.

“Pokoknya selalu tanya anak-anaknya pingin maem apa. Padahal mungkin nggak punya uang, tapi ibu selalu berusaha sebisa mungkin dibikinin agar anak-anaknya senang,” pungkasnya. Wardoyo