JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kasus Lamaran Pengantin Berujung Petaka di Gemolong Sragen, 122 Warga 2 Dusun Hari Ini Diswab Massal. Jangan Kaget, Ini Rincian Hasilnya Ada yang Positif, Ada yang Diswab PCR!

Ilustrasi swab antigen di lokasi hajatan yang dilakukan tim Satgas dan Polsek di wilayah Sragen. Foto/Wardoyo
PPDB
PPDB
PPDB

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus penyebaran covid-19 dari klaster lamaran pengantin di Desa Brangkal, Kecamatan Gemolong, Sragen, terus berkembang.

Sebanyak 122 warga di tiga rukun tetangga (RT) di dua dusun desa itu, terpaksa harus menjalani swab massal hari ini tadi, Jumat (11/6/2021).

Ratusan warga itu terpaksa harus menjalani tes usap lantaran terlacak kontak erat dengan warga yang positif dari klaster lamaran pengantin di desa itu.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sragen, Tatag Prabawanto mengatakan swab massal hari ini digelar sejak pukul 08.00 WIB sampai 10.30 WIB. Total ada 122 warga yang diswab di tiga RT.

Masing-masing RT 13, 14 dan 15. Swab massal digelar sebagai kelanjutan dari hasil tracking warga yang kontak erat dengan warga positif. Sebelumnya dari klaster lamaran itu, sudah ada 10 warga yang positif terkonfirmasi covid-19.

“Hari ini tadi dilakukan swab massal di 3 RT. Total ada 122 warga. Tadi digelar oleh Satgas desa dan kecamatan,” paparnya dikonfirmasi JOGLOSEMARNEWS.COM , Jumat (11/6/2021).

Tatag menguraikan swab massal juga dihadiri Kapolres AKBP Yuswanto Ardi dan Dandim Sragen. Dari hasil swab yang dilakukan, rinciannya ada dua warga yang positif antigen, 110 negatif antigen.

“Sisanya ada 12 orang yang diswab PCR. Hasil PCR masih menunggu,” jelasnya.

Untuk warga yang positif langsung diisolasi ke Technopark Sragen. Sementara warga yang negatif diperkenankan kembali ke rumah namun diharapkan tetap menjaga prokes.

Baca Juga :  Covid-19 Varian Delta, Nyeri Ulu Hati dan Mual Jadi Salah Satu Gejalanya Ki

Kasus ledakan klaster lamaran itu bermula ketika ada sejumlah warga yang mengantar lamaran pengantin asal desa itu ke luar daerah.

Setelah itu, ada warga yang meninggal dunia dengan hasil swab positif. Kemudian dilakukan tracking kontak erat sebanyak 15 orang. Hasilnya 8 di antaranya positif.

Celakanya kontak erat warga yang positif ternyata semakin meluas. Saat swab lanjutan, ada 2 lagi warga yang terpapar positif pada Kamis (10/6/2021). Tracking terus berlanjut hingga mendapat 122 warga kontak erat dan diswab hari ini.

Sebelumnya, Kapolres Sragen, AKBP Yuswanto Ardi pada Kamis (10/6/2021) juga menyebut ada warga dua dusun di Desa Brangkal, Kecamatan Gemolong yang diswab massal.

Mereka diswab dari hasil tracing pengembangan kasus covid-19 dari klaster lamaran di desa itu. Guna mengawal swab, Kapolres juga siap terjun ke lokasi.

“Iya ada dua dusun di Gemolong yang akan diswab. Di Brangkal, kelihatannya dari klaster lamaran kemarin. Saya ke sana juga,” paparnya kepada wartawan di Mapolres Sragen, Kamis (10/6/2021).

Kapolres menegaskan terkait swab massal itu, Polres sudah menyiapkan tim dan armada untuk membantu penjemputan warga yang akan menjalani swab.

Namun karena dari pihak desa sudah mampu memberikan imbauan ke warga untuk proaktif, sehingga upaya penjemputan dinilai belum perlu.

Menurutnya kesiapsiagaan itu sebagai
bukti bahwa Pemkab dan jajaran termasuk Polres sangat-sangat serius dalam menjaga dan mengawal keselamatan masyarakat dari wabah Covid-19.

Baca Juga :  Ngeri, 5 Warga Sukoharjo Meninggal Dengan Status Positif COVID-19, Kasus Baru Juga Naik 49 Orang

“Bahwa saat ini keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi atau Salus Populi Suprema Lex Esto,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Kapolres juga mengingatkan saat ini banyak sekali warga positif tanpa gejala yang merasa badannya fit, utamanya anak muda.

Mereka kecenderungannya kurang mematuhi protokol kesehatan dan berpotensi menularkan.

Untuk mengantisipasi hal itu, Polres akan menggencarkan swab antigen massal dan acak di pusat keramaian, kuliner, termasuk hajatan.

“Supaya mereka ini tidak menularkan ke orang lain yang rentan sehingga bisa mengakibatkan fatalitas. Kemudian kita akan kawal agar pasien positif OTG diisolasi secara terpusat di Technopark. Apabila ada warga yang enggan, kita ada tim khusus untuk menjemput,” jelasnya.

Kapolres menguraikan dengan isolasi mandiri terpusat di satu tempat, maka akan banyak keuntungan.

Yakni menurunkan potensi penularan sehingga tingkat risiko fatalitas utamanya bagi warga lansia juga berkurang.

Pemerintah dalam hal ini Pemkab Sragen sudah berupaya maksimal dalam penanganan mulai swab massal, tracing, hingga treatment sampai dipikirkan tempatnya di Technopark, akomodasi hingga konsumsinya.

“Kalau isolasi terpusat, kesehatan akan lebih termonitor, kalau ada perburukan kondisi bisa cepat ditangani. Kedua pengawasan akan ketat, per klaster ditangani sehingga tidak menyebar. Ini satu-satunya cara mengendalikan penyebaran,” terangnya. Wardoyo