JOGLOSEMARNEWS.COM Umum

Di Balik Idul Adha, Inilah Pesan Mutiara dari Kisah Nabi Ibrahim AS

Ilustrasi ibadah Wukuf di Arafah / Pixabay


Institut Sains Teknologi Kra
Institut Sains Teknologi Kra
Institut Sains Teknologi Kra

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM Perayaan Idul Adha bagi umat muslim tidak dapat dilepaskan dari kisah hidup Nabi Ibrahim AS. Pembelajaran yang dapat dipetik tidak akan pudar meskipun tergerus zaman.

Kisah Nabi Ibrahim AS mulai dari perjalanannya mencari Tuhan, ujian menjadi nabi, hingga cobaan dalam keluarganya menorehkan berbagai pembelajaran hidup.

Syihabuddin Qalyubi, guru besar Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyampaikan empat pembelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim AS, termasuk di dalamnya mengenai ibadah kurban.

Dalam khutbahnya, Syihabuddin mengaitkan Idul Adha dengan momentum Covid-19 dan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang beberapa hari lagi akan kita rayakan bersama.

“Betapa berat ujian dan cobaan yang dialami Nabi Ibrahim AS. Beliau terpaksa berselisih paham dengan ayahandanya, dibakar hidup-hidup, berpisah dengan keluarganya, harus menyembelih anak semata wayang, anak yang sangat disayang. Namun dengan asas iman, tulus ikhlas, taat dan patuh akan perintah Allah swt, Nabi Ibrahim AS akhirnya lolos dan lulus dalam melewati berbagai ujian dan cobaan tersebut,” tutur Syihabudin sebagaimana dilansir dari Republika.co.id, Selasa (20/7/2021)

Pertama, Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan pendekatan diri demi cinta kepada Allah SWT. Istilah kurban sendiri diambil dari bahasa Arab, yaitu qaruba, yaqrubu, qurban, dan qurbanan yang berarti dekat. Di samping itu, kata kurban juga memiliki arti hewan sembelihan yang semakna dengan udlhiyah atau dlahiyyah.

Pembelajaran pertama itu dimulai dari perenungan mengenai adanya Tuhan oleh Nabi Ibrahim AS. Pada saat itu, kaumnya menyembah berhala.

Mulanya, Nabi Ibrahim mengira Tuhan adalah bintang, bulan dan matahari. Namun, ketiganya terkadang terlihat, terkadang menghilang. Hingga pada akhirnya, Nabi Ibrahim menyadari bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang harus disembah.

Baca Juga :  WhatsApp Luncurkan Fitur View Once (Hapus Foto Otomatis) di iOS dan Android, Begini Cara Pakainya

Dalam sejarah Indonesia, pendekatan diri dengan Allah SWT dialami Pangeran Diponegoro sewaktu perang melawan Belanda (1825 s.d. 1830), KHZ Mushthafa di Sukamanah Tasikmalaya saat perang melawan Jepang (1944), dan para pejuang lainnya tatkala melawan penjajah. Perjuangan itu telah mengantarkan Indonesia meraih kemerdekaan.

Kedua, kisah Nabi Ibrahim menunjukkan pengorbanan demi cita-cita yang luhur.

Nabi Ibrahim mendapat perintah Allah SWT untuk membawa istrinya, Hajar, dan anaknya yang baru saja lahir, Ismail, ke suatu tempat yang sangat tandus. Di sana tidak ada satu pun tanaman, tidak ada hewan yang bisa diperah susunya, dan tidak ada orang yang bisa dimintai pertolongan.

Terdapat empat tujuan Nabi Ibrahim membawa keluarganya ke tempat gersang itu. Yakni, agar kelak manusia melaksanakan shalat (ibadah) di Tanah Haram. Selanjutnya, agar orang-orang senang untuk mendatanginya. Lalu, agar Allah SWT memberikan rezeki antara lain buah-buahan. Terakhir, agar manusia mau bersyukur.

Kendati menghadapi situasi sulit itu, Nabi Ibrahim berdoa dan menyerahkan urusannya kepada Allah SWT.

Terbukti dengan kekuasaan-Nya, Allah SWT memberikan kesuburan tanah dan potensi melimpah di Masjidil Haram, bahkan Arab Saudi. Bahkan, umat muslim rela menunggu puluhan tahun agar mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji.

Ketiga, pembelajaran yang dapat dipetik menunjukkan kurban sebagai realisasi keadilan sosial.

Pemaknaan ini tergambar dari pembagian hasil penyembelihan hewan kurban kepada orang yang lebih membutuhkan. Dengan demikian, jiwa sosial dapat timbul di antara masyarakat sembari melaksanakan ibadah.

Baca Juga :  Ingin Pintar dan Aman Bersosial Media, Lindungi Data Pribadi dengan Cara Ini

Pandemi Covid-19 menjadikan banyak orang mengalami kesulitan. Oleh sebab itu, rasa kepedulian diharapkan tumbuh seiring dengan adanya hari raya yang puncaknya jatuh pada 10 Dzulhijjah ini.

Keempat, pembelajaran cinta Tanah Air yang aman dan damai.

Dalam doanya, Nabi Ibrahim menginginkan negeri yang aman dan makmur. Dalam surat Quraisy, disebutkan aț’amahum min jū’ (memberi makanan untuk menghilangkan kelaparan) yang dalam konteks ke-Indonesiaan direalisasikan dalam bentuk ketahanan pangan.

Selanjutnya, disebutkan pula dan āmanahum min khauf (aman dari rasa ketakutan) yang dalam konteks ke-Indonesiaan bisa direalisasikan dalam bentuk bela negara.

Keempat poin pembelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim tersebut sangat patut untuk diteladani. Terlebih lagi jika kisah itu dikaitkan dengan Idul Adha, salah satu hari suci bagi umat muslim yang dirayakan hari ini. Linda Andini Trisnawati