JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Opini

Pendidikan Akhlak dan Pelestarian Lingkungan

Seperti yang telah termaktub dalam pembukaan UUD 1945 bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa, pada tahun 2016 pemerintah mulai merintis program wajib belajar 12 tahun.

Program ini memberikan kesempatan pendidikan seluas-luasnya bagi penduduk yang berusia 16-18 tahun atau siswa pada tingkat pendidikan menengah.

Dengan diberikannya kesempatan ini diharapkan warga Negara Indonesia tidak putus sekolah sehingga mereka menamatkan pendidikan menengah. Ini harapan terhadap batas terbawah jenjang pendidikan yang menjadi impian pemerintah.

Dalam pendidikan, terdapat beberapa aspek yang diterapkan dalam pembelajaran. Salah satu aspek tersebut adalah aspek pendidikan budi pekerti dan akhlak. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang diharapkan akan semakin tinggi juga budi pekertinya.

Oleh karena itu, di sekolah selaku pelaku pelaksana pendidikan, guru harus senantiasa menjadi contoh dan role model bagi para siswanya dalam bersikap dan berperilaku. Filosofi guru yang “digugu” lan “ditiru” menjadi trend dalam dunia pendidikan di tanah air selama ini.

Pendidikan budi pekerti atau biasa kita kenal juga dengan pendidikan akhlak adalah salah satu bentuk pendidikan yang krusial di Indonesia, mengingat moral bangsa sekarang akan menentukan nasib bangsa kita puluhan bahkan ratusan tahun kedepannya.

Akhlak memang identik dengan perilaku seseorang terhadap sang khalik dan sesama manusia, namun akhlak sebenarnya tidak hanya terbatas pada kedua dimensi tersebut, akhlak juga diterapkan terhadap lingkungan karena sesuai dengan ajaran islam bahwa agama islam tidak hanya diturunkan untuk menjadi rahmat bagi umat manusia semata, tetapi juga rahmat bagi sekalian alam. Sesuai dengan firman Allah dalam surat Ambiya ayat 107 yang artinya: “Tidaklah Kami mengutus kamu Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”.

 

Menjaga Alam

Indonesia sebagai Negara yang melintang di garis khatulistiwa dan dianugerahi kekayaan alam yang melimpah, baik biotik maupun abiotik, dan di darat maupun laut harus bisa membuka mata hati kita untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada bangsa ini.

Manusia yang diturunkan ke bumi menjadi khalifah untuk menjaga kehidupan alam. Sebagai penjaga alam di muka bumi, manusia yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling berakal sudah sepatutnya menjaga dan memakmurkan bumi sebagai tempat tinggal dan tempat mengabdi terhadap Tuhannya.

Rasa syukur terhadap nikmat tersebut tercermin dari perbuatan kita sehari-hari, dimulai dari tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan air, menanam pohon, menyayangi binatang, menjaga kebersihan lingkungan dan perbuatan lainnya yang mencerminkan kecintaan kita terhadap alam.

Sebagai seseorang yang pernah mengenyam bangku sekolah, di mana di sekolah telah diajarkan dan diterapkan perilaku-perilaku peduli lingkungan, maka sudah menjadi tugas tidak tertulis bagi kita untuk menerapkan sekaligus menularkan dan menurunkan sikap peduli lingkungan dengan menjadi penggerak di lingkungan tempat kita tinggal.

Hal ini tentu perlu dimulai dari diri sendiri, keluarga dan kerabat dekat, hingga masyarakat pada umumnya. Lingkungan yang baik akan melahirkan kenyamanan dan masa depan yang baik pula untuk masa depan generasi penerus kita semua.

Pelestarian lingkungan harus selalu tercermin di sekolah sebagai bentuk penerapan cinta lingkungan di sekolah sehingga siswa akan terbiasa dan selalu menerapkan kecintaannya terhadap lingkungan ketika berada di luar lingkungan sekolah, seperti di lingkungan rumah dan masyarakat.

Untuk itu, pendidikan akhlak yang diterapkan dan dibiasakan kepada siswa selama kurun waktu minimal 12 tahun tersebut, termasuk menerapkan kecintaan terhadap lingkungan diharapkan akan berdampak baik pada kelestarian lingkungan sekitar secara berkelanjutan di masa mendatang. (*)

Ayuana Kartika Dewi

Mahasiswa S2 Pendidikan Sains Pascasarjana FKIP UNS Surakarta

Bagi Halaman