JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Hasil Sensus Pertanian 2023 Jumlah Petani di Kabupaten Sragen Jawa Tengah Mengalami Penyusutan

Rilis data hasil sensus pertanian (ST2023) tahap 1 kabupaten Sragen, Selasa (12/12/2023) || Huri Yanto
   

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Hasil sensus pertanian (ST 2023) tahap satu di Kabupaten Sragen mengalami penyusutan, hasil sensus itu dilakukan langsung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sragen, Selasa (12/12/2023).

Dalam rilis yang digelar di Hotel Front One Sragen, menurut data yang berhasil dihimpun mengatakan bahwa hasil sensus menunjukkan bahwa ada penurunan usaha pertanian. Situasi ini menjadi sinyal bahaya bagi Kabupaten Sragen yang dikenal sebagai lumbung padi terbesar di Jawa tengah.

Pada JOGLOSEMARNEWS.COM Kepala BPS Sragen Cahyo Kristiono mengatakan bahwa hasil sensus dilakukan selama dua tahap, dan saat ini tengah dilakukan tahap pertama, sedangkan sensus kedua akan dilakukan dengan hasil yang lebih detail.

Tahap pertama hasil sensus pertanian 2023 di Sragen menunjukkan bahwa perkembangan jumlah unit usaha pertanian di kabupaten Sragen dalam rentang waktu 2013 sampai 2023 mengalami penurunan. Penurunan dari 2013 sebanyak 166.105 Unit pertanian perorangan (UTP) turun menjadi 144.134 UTP.

“Iya terjadi penurunan 14,25 persen, sedangkan unit pertanian usaha berbadan hukum mengalami penurunan juga dari 2 unit jadi 1 unit. Unit pertanian lainnya justru mengalami peningkatan dari 2023 sebanyak 4 unit jadi 53 unit.

Baca Juga :  Bupati Sragen Resmi Perpanjang Masa Jabatan Kades 2 Tahun

Beberapa poin lain adalah untuk UTP yang mendominasi semua sektor usaha pertanian, kemudian sektor hortikultura dan peternakan, dan sebaran UTP perorangan paling terbanyak di kecamatan Tanon, 5 tertinggi di kabupaten Sragen berasal di kecamatan Tanon, Plupuh, Sumberlawang, Mondokan dan Kalijambe,” kata Cahyo Kristiono.

Selain itu, melihat komposisi petani dari sisi umur, mayoritas di generasi X dengan rentang kelahiran 1980 – 1995.

“Artinya perkiraan usia 43 menempati tertinggi, nilainya 40-30 persen,Generasi milenial usia 27 tahun sebanyak 16,30 persen, lahan tidur itu akan berpengaruh dengan produktivitas karena tidak diusahakan tidak akan menghasilkan dan sebenarnya terjadi juga alih fungsi lahan di kabupaten Sragen sehingga produksi menurun dari 2013 sampai 2023,” jelasnya.

Sementara itu wakil bupati Sragen, Suroto dalam sambutannya mengatakan bahwa sektor pertanian menjadi pilihan terakhir masyarakat Sragen untuk mendapatkan pekerjaan pilihan paling terakhir.

“Sebagian besar penduduknya kurang lebih 55% bekerja di sektor pertanian baik dan juga yang berprofesi di sektor jasa pertanian sektor pertanian sangat penting dikarenakan sektor ini merupakan pendukung utama ketahanan pangan nasional, demikian profesi petani belum menjadi pilihan pekerjaan yang menjadikan untuk masa depan pada umumnya menjadi petani sebagai pilihan terakhir apabila mereka tidak mendapatkan peluang kerja di sektor lain yang mereka harapkan,” bebernya.

Baca Juga :  Gerindra dan Demokrat Jalin Koalisi di Pilkada Sragen 2024, PDIP ?

Terpisah, terkait situasi tersebut Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen Suratno menyampaikan jumlah petani di lapangan memang menurun.

Kondisi pertanian memang tidak menarik dan tidak menjanjikan bagi anak muda. Karena pilihan generasi yang lebih muda banyak memilih bekerja di pabrik atau urbanisasi ke kota.

Suratno menjelaskan gambaran ada petani milenial di Sragen, menurutnya harus dipastikan. Karena petani juga bermacam-macam lahan garapan.

“Kalau Sragen kan banyak sawah. Apakah petani milenial itu mengerjakan sawah? Kalau saya yakin petani milenial ini yang mengembangkan green house, melon, tanaman hidroponik, seperti melon,” ujarnya.

Huri Yanto

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com