Beranda Nasional Jogja Haul ke-38 HB IX di Ndalem Prabukusuman, Keistimewaan Yogyakarta Diingatkan Tak Sekadar...

Haul ke-38 HB IX di Ndalem Prabukusuman, Keistimewaan Yogyakarta Diingatkan Tak Sekadar Status

Peserta Haul ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono IX berfoto bersama di Ndalem Prabukusuman, Yogyakarta, Jumat (2/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum mengenang perjuangan dan nilai-nilai keteladanan HB IX | Foto: Istimewa

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Haul ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjadi momentum untuk kembali mengingat nilai-nilai perjuangan dan pengabdian sang Sultan, sekaligus merefleksikan makna keistimewaan Yogyakarta.

Pesan tersebut mengemuka dalam Haul ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang digelar Komunitas Sabtu Paing di Ndalem Prabukusuman, kediaman G.B.P.H. H. Prabukusumo, S.Psi., Yogyakarta, Jumat (2/10/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB itu dihadiri sejumlah tokoh lintas bidang, di antaranya KH Abdul Muhaimin dari PBNU, KH Jadul Maulana, Ketua IAAI Marsis Sutopo, Prof. Popi Inajati Adrisijanti, M. Basyir Zubair selaku Ketua Mahasabha, Prof. Baiquni, Prof. Suminto A. Sayuti, Prof. Zuli Qodir, Prof. Purwo Santoso, Ustaz Khamim Zarkasi, Ir. RM Nurdi Antoro, KP Tanto dari Solo, RM Rudi Rejeki Mili, serta sejumlah seniman dan budayawan.

Di antaranya Yati Pesek, Yani Saptohoedojo dan Oka Mahendra Dewa dari ISI.

Koordinator Komunitas Sabtu Paing, Sigit Sugito, mengatakan haul HB IX tidak sekadar menjadi agenda untuk mengenang tokoh sejarah. Menurut dia, mengingat kembali keteladanan HB IX juga menjadi bagian dari upaya menjaga marwah Keraton dan memahami makna keistimewaan Yogyakarta.

“Kalau kita melupakan HB IX, otomatis kita melupakan marwah Keraton dan keistimewaan Yogyakarta,” ujar Sigit, sebagaimana dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Ia mengatakan nilai-nilai yang diwariskan HB IX masih relevan untuk terus dihidupkan, terutama keberpihakan kepada rakyat, nasionalisme, kesederhanaan dan tanggung jawab kebangsaan.

“Yogyakarta harus bermartabat. Keistimewaan harus menjaga martabat,” katanya.

Menurut Sigit, keistimewaan Yogyakarta tidak semestinya hanya dipahami sebagai status politik maupun kelembagaan. Nilai tersebut, kata dia, juga harus tercermin dalam perilaku masyarakat, tata kelola pemerintahan, kehidupan kebudayaan serta keberpihakan terhadap kepentingan rakyat.

Baca Juga :  Celurit Sepanjang 1 Meter Disita di Bantul, Remaja 17 Tahun Jadi Tersangka
G.B.P.H. Prabukusumo memberikan sambutan dalam Haul ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Ndalem Prabukusuman, Yogyakarta, Jumat (2/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, putra HB IX itu mengenang sosok ayahnya sebagai raja yang dekat dengan rakyat dan memiliki karakter egaliter | Foto: Istimewa

Sementara itu, G.B.P.H. Prabukusumo, putra Sri Sultan Hamengku Buwono IX, menuturkan sosok ayahnya sebagai seorang raja yang dekat dengan rakyat dan memiliki karakter egaliter.

Menurut Prabukusumo, HB IX tidak hanya merupakan raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, tetapi juga menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan Republik Indonesia sejak awal kemerdekaan.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang memiliki nama kecil Gusti Raden Mas Dorodjatun, lahir di Yogyakarta pada 12 April 1912 dan wafat di Washington D.C., Amerika Serikat, pada 2 Oktober 1988.

HB IX memimpin Kasultanan Yogyakarta sejak 1940 hingga 1988.

Dalam haul tersebut, Heru Wahyu Kiswoyo, A.Sos., M.Si., juga menguraikan perjalanan sejarah perjuangan HB IX, termasuk peran Sultan dalam menjembatani keberadaan Keraton dengan lahirnya Republik Indonesia.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, HB IX menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia dan mengintegrasikan Yogyakarta ke dalam negara yang baru berdiri.

Dukungan tersebut tidak berhenti pada pernyataan politik. Pada masa awal Republik, Keraton turut memberikan dukungan sumber daya bagi pemerintahan Indonesia. Yogyakarta kemudian menjadi salah satu pusat penting bagi keberlangsungan pemerintahan Republik ketika Jakarta berada dalam ancaman Belanda.

Saat Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia. Dalam situasi tersebut, HB IX memainkan peran dalam mempertahankan keberadaan pemerintahan Republik sekaligus mendukung perjuangan TNI dan rakyat.

Peran Yogyakarta dalam mempertahankan Republik juga berkaitan dengan Serangan Umum 1 Maret 1949. Peristiwa tersebut menjadi salah satu momentum penting untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan terus berlangsung.

Baca Juga :  Tabrak Pembatas Jalan di Tempel Sleman, Pemotor Remaja Asal Magelang Tewas di Lokasi

Jejak pengabdian HB IX kemudian berlanjut dalam pemerintahan Republik Indonesia. Ia dipercaya sebagai Gubernur DIY pertama dan kemudian menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia kedua.

Atas jasa-jasanya dalam perjuangan dan pembangunan bangsa, Sri Sultan Hamengku Buwono IX ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 23 Juni 2003.

Bagi Komunitas Sabtu Paing, warisan HB IX tidak semata-mata berupa gelar, jabatan maupun catatan sejarah. Nilai pengabdian dan keberpihakan kepada rakyat dinilai menjadi bagian penting dari warisan yang perlu terus dirawat.

Sosok raja yang dekat dengan rakyat, kekuasaan yang ditempatkan sebagai sarana pengabdian, serta sikap kebangsaan yang berjalan seiring dengan identitas keistimewaan Yogyakarta menjadi nilai yang dinilai tetap relevan hingga kini.

Karena itu, haul HB IX tidak hanya menjadi agenda mengenang wafatnya seorang raja. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk kembali melihat sejauh mana nilai-nilai yang diwariskan HB IX tetap hidup dalam kehidupan Yogyakarta.

Mengenang HB IX pada akhirnya bukan hanya membuka kembali halaman sejarah, tetapi juga mengingatkan bahwa keistimewaan Yogyakarta memiliki dimensi sejarah, kebudayaan dan kebangsaan yang tidak terpisahkan dari keberpihakan kepada rakyat. [*]

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.