GUNUNGKIDUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ekspansi kawasan wisata berbuntut persoalan bagi puluhan warga yang selama ini menggantungkan penghasilan dari Pantai Watubolong, Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul.
Akses menuju pantai tersebut ditutup menyusul perluasan kawasan operasional On The Rock. Akibatnya, arus wisatawan yang biasanya menjadi tumpuan para pedagang disebut merosot, sehingga pendapatan warga ikut terdampak.
Persoalan itu akhirnya dibawa warga ke gedung wakil rakyat. Puluhan warga mendatangi Kantor DPRD Gunungkidul, Selasa (22/9/2026) siang, untuk meminta agar akses menuju Pantai Watubolong kembali dibuka.
Kedatangan mereka ditandai dengan membentangkan spanduk yang berisi tuntutan pembukaan kembali jalan menuju kawasan pantai.
Setelah itu, perwakilan warga mengikuti audiensi dengan DPRD Gunungkidul. Rombongan diterima Ketua DPRD Gunungkidul Endang Sri Sumiyartini bersama sejumlah pihak terkait.
Dalam pertemuan tersebut, warga meminta DPRD ikut mencari jalan keluar atas persoalan akses yang mereka nilai berdampak langsung terhadap mata pencaharian.
Salah seorang warga, Suwasno, menyebut sedikitnya 37 warga selama ini berjualan di sekitar kawasan Pantai Watubolong. Mereka mengandalkan kedatangan wisatawan sebagai sumber pendapatan.
Namun, menurut Suwasno, situasi berubah setelah akses masuk ditutup berkaitan dengan perluasan kawasan On The Rock. Jumlah wisatawan yang datang disebut mengalami penurunan dan kondisi tersebut berimbas pada omzet pedagang.
“Tuntutan kami untuk akses jalan masuk ke Pantai Watubolong harus dibuka. Karena dengan penutupan akses membuat jualan kami sepi pengunjung dan penghasilan kami berkurang,” kata Suwasno ditemui di Gedung DPRD Kabupaten Gunungkidul, Selasa dikutip dari Kompas.com.
“Kondisi sekarang sepi, soalnya akses jalan ditutup on the rock,” ucap dia.
Meski telah mempertemukan warga dengan pihak-pihak terkait, audiensi tersebut belum menghasilkan kesepakatan konkret mengenai pembukaan akses Pantai Watubolong.
Ketua DPRD Gunungkidul Endang Sri Sumiyartini mengatakan, pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan kepentingan warga, pemerintah daerah, dan pengelola kawasan wisata.
“Tugas kami sesuai dengan tugas pokok dan fungsi, ada permintaan audiensi direspons dengan menggelar pertemuan yang melibatkan berbagai pihak mulai dari DPRD, Pemkab, manajemen On The Rock hingga warga,” ucap Endang.
Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan mencari titik temu yang tidak merugikan warga maupun pengelola kawasan wisata.
Sementara itu, Asisten Sekda Bidang Pembangunan dan Pembangunan Chairul Agus Mantara mengatakan pemerintah daerah akan mengecek langsung kondisi akses yang dipersoalkan warga.
“Jalan yang diminta sudah bisa dilewati, besuk cek lapangan,” kata dia.
On The Rock Siapkan Akses Alternatif
Dari pihak pengelola, Kuasa Hukum On The Rock Sudarmono Siringoringo mengatakan tuntutan warga masih harus dikomunikasikan dengan pihak manajemen.
Ia menyebut pengelola telah menyiapkan beberapa pilihan akses yang memungkinkan warga dan wisatawan tetap dapat menuju Pantai Watubolong. Namun, keputusan mengenai alternatif tersebut belum final.
“Sudah ada alternatifnya, tapi kepastian juga masih harus dikomunikasikan dengan manajemen,” kata dia.
Persoalan akses ini kini masih menunggu tindak lanjut di lapangan. Pemerintah daerah berencana melakukan peninjauan untuk memastikan kondisi jalan yang dipersoalkan warga sekaligus mencari solusi atas kepentingan akses publik dan operasional kawasan wisata.
On The Rock – Drini sendiri merupakan kawasan wisata yang berada di sekitar Pantai Drini, Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul.
Kawasan tersebut mengusung konsep wisata di atas tebing karst dengan panorama Samudra Hindia. Selain menawarkan pemandangan laut, kawasan ini juga dilengkapi fasilitas restoran dan kafe.
Pengunjung dapat menikmati berbagai menu makanan dan minuman sekaligus menikmati panorama laut, termasuk suasana matahari terbenam.
Dari Kota Yogyakarta, kawasan On The Rock di sekitar Pantai Drini berjarak sekitar 60-65 kilometer dengan waktu tempuh rata-rata 1,5 hingga 2 jam, tergantung titik keberangkatan dan kondisi lalu lintas.
Namun, di balik geliat pengembangan destinasi wisata tersebut, persoalan akses Pantai Watubolong kini menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Sebab, bagi puluhan warga setempat, keberadaan akses menuju pantai bukan sekadar soal jalur keluar-masuk wisatawan, melainkan berkaitan langsung dengan keberlangsungan mata pencaharian mereka. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.













