PURWOREJO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Persoalan keamanan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah dugaan keracunan terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Di Purworejo dan Batang, jumlah warga yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG terus bertambah hingga mencapai lebih dari seribu orang.
Di Kecamatan Bener, Purworejo, jumlah warga yang tercatat mengalami gejala dugaan keracunan melonjak menjadi 718 orang. Angka tersebut meningkat jauh dibandingkan data sebelumnya yang mencapai 452 orang.
Kepala Dinas Komunikasi, Informasi, Statistik, dan Persandian (Dinkominfostasandi) Kabupaten Purworejo, Ganis Pramudito, mengatakan data tersebut merupakan hasil pendataan Satgas MBG setempat.
Selain ratusan warga yang mengalami keluhan kesehatan, tiga orang masih menjalani perawatan di rumah sakit.
“Adapun yang masih menjalani opname ada 2 orang dari Desa Guntur, dan satu orang dari Desa Sidomukti,” katanya, Jumat (25/9/2026).
Sebaran korban di Kecamatan Bener cukup luas. Dari pendataan sementara, Desa Guntur mencatat 189 orang, Nglaris 95 orang, Sidomukti 110 orang, Ngasinan 119 orang, Sendangsari 110 orang, Limbangan 24 orang, Kaliboto 35 orang, dan Legetan 36 orang.
Pemerintah Kabupaten Purworejo menyatakan biaya pengobatan bagi warga terdampak ditanggung pemerintah daerah.
“Untuk pengobatan gratis ditanggung Pemkab Purworejo,” kata Ganis.
Kasus di Bener bermula setelah menu MBG dibagikan kepada penerima manfaat pada Kamis (17/9/2026). Setelah menyantap makanan tersebut, sejumlah anak dan warga kemudian mengeluhkan gangguan kesehatan, antara lain diare, mulas, dan sakit perut.
Salah seorang orang tua murid, Sarjito, menceritakan anaknya termasuk yang mengalami diare setelah mencicipi makanan MBG. Menurutnya, anak tersebut hanya mengonsumsi sebagian menu, termasuk ayam.
Keluhan baru muncul beberapa jam kemudian. Pada awalnya, Sarjito tidak mengaitkan kondisi anaknya dengan makanan MBG karena mengira hanya mengalami gangguan pencernaan biasa.
Kecurigaan mulai muncul setelah informasi mengenai anak-anak lain yang mengalami keluhan serupa beredar pada keesokan harinya.
“Awalnya saya tidak sadar bahwa itu akibat dari MBG. Saya anggap sakit perut biasa. Ternyata pagi harinya baru dapat kabar dari yang lain, ramai sekali kalau MBG itu banyak yang mengalami mencret dan sakit perut,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com, Jumat.
Kondisi tersebut kemudian memicu protes dari warga. Mereka meminta adanya evaluasi terhadap penyelenggaraan program MBG, termasuk terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan.
“Tuntutan kami adalah tutup SPPG-nya,” kata Sarjito.
Sarjito juga menyoroti makanan MBG yang menurut pengamatannya tidak seluruhnya dikonsumsi penerima manfaat. Ia mengaku pernah melihat makanan yang tersisa kemudian dibawa pulang.
“Saya menyaksikan sendiri di sini. Banyak anak-anak yang tidak memakan MBG-nya,” ujarnya.
Muncul Kasus Baru di Purworejo
Belum selesai penanganan kasus di Bener, dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG kembali dilaporkan di wilayah Purworejo.
Sebanyak 25 siswa di Desa Penungkulan, Kecamatan Gebang, mengalami sejumlah keluhan setelah menyantap menu MBG pada Kamis (24/9/2026).
Keluhan yang dilaporkan antara lain mual dan pusing. Seorang siswa bahkan sempat muntah setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Sekretaris Desa Penungkulan Syarifudin mengatakan, makanan diterima dan disantap para siswa sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.
Menu yang dikonsumsi terdiri atas telur, jagung, tempe, wortel, dan susu.
“Alhamdulillah tidak ada yang meninggal, semuanya teratasi dengan baik,” kata dia.
Batang Juga Diguncang Kasus Serupa
Persoalan serupa terjadi di Kabupaten Batang. Dugaan keracunan MBG dilaporkan terjadi di Kecamatan Bawang sejak Rabu (23/9/2026).
Dalam perkembangan penanganannya, jumlah warga yang mengalami keluhan kesehatan terus meningkat. Pada awal laporan tercatat 276 korban, kemudian pada Kamis (24/9/2026) jumlahnya disebut mencapai 411 orang.
Bupati Batang M Faiz Kurniawan ketika itu menyebut 119 warga telah dirujuk untuk mendapatkan penanganan medis. Sebanyak 20 orang menjalani perawatan di Puskesmas Bawang, sedangkan 272 lainnya menjalani rawat jalan.
Di tengah penanganan korban, pemeriksaan terhadap dapur SPPG Bawang menemukan sejumlah persoalan yang kini menjadi bagian dari investigasi.
Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan adanya ketidaksesuaian dalam proses pengolahan makanan. Berdasarkan penelusuran rekaman CCTV, kegiatan memasak telah dimulai sejak Senin (21/9/2026) sekitar pukul 19.30 WIB.
Waktu tersebut menjadi perhatian karena prosedur yang berlaku mengatur pengolahan makanan dilakukan setelah pukul 02.00 WIB.
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, juga mengungkap proses pengolahan telur yang dilakukan lebih awal sebelum kemudian dipanaskan kembali pada dini hari.
Temuan tersebut membuat proses produksi makanan di SPPG Bawang diperiksa secara menyeluruh, mulai dari bahan baku hingga makanan sampai kepada penerima manfaat.
“Kami sedang menelusuri seluruh proses, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pemorsian hingga distribusi,” tutur Ketut.
Pemeriksaan tidak hanya menyasar waktu pengolahan makanan. Kondisi fisik bangunan dan sanitasi dapur SPPG juga menjadi perhatian.
Sejumlah bagian dapur disebut belum sepenuhnya memenuhi ketentuan. Bupati Batang yang melakukan pengecekan langsung menyebut adanya persoalan terkait konstruksi dinding serta pengelolaan limbah.
Namun, temuan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab pasti munculnya dugaan keracunan.
Ketut menegaskan investigasi masih berlangsung dan seluruh kemungkinan masih ditelusuri.
“Kami tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian sebelum seluruh pemeriksaan selesai. Semua harus berdasarkan fakta dan hasil investigasi,” ucapnya.
Satu Keluarga Ikut Terdampak
Dampak dugaan keracunan di Batang juga dirasakan Desi (34), warga Kecamatan Bawang. Ia menjalani perawatan di RSUD Batang bersama dua anaknya, Azam (5) dan Syifa (3).
Ketiganya mengalami keluhan yang hampir sama, mulai dari diare, muntah, pusing hingga demam.
Desi mengatakan, ia sempat mengonsumsi sisa makanan MBG yang diperoleh anaknya. Beberapa jam setelah menyantap makanan tersebut, tubuhnya mulai terasa tidak nyaman.
“Ini kan dapat dari balita, kebetulan saya enggak makan nasi. Terus itu ada sisa telur, itu saya makan,” kata Desi di RSUD Batang.
Ketika kondisi semakin memburuk, Desi mengetahui bahwa sejumlah warga lain juga mengalami keluhan serupa. Informasi dari sekolah anaknya kemudian mendorong keluarga tersebut mendapatkan pemeriksaan medis.
“Gejala saya dan kedua anak saya itu sama. Diare, muntah, pusing, panas,” lanjutnya.
Desi bersama kedua anaknya menjadi bagian dari warga yang masih menjalani penanganan setelah dugaan kejadian tersebut. Penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para warga masih menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi.
Di tengah kondisi tersebut, Desi berharap keluarganya segera pulih.
“Mudah-mudahan cepat sembuh,” harapnya.
Desakan Evaluasi Program
Rentetan dugaan keracunan setelah konsumsi MBG tersebut kemudian memunculkan desakan evaluasi dari masyarakat sipil.
Di Sleman, Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Sleman bersama sejumlah elemen yang mengatasnamakan Warga Peduli Anak mendatangi DPRD Sleman pada Kamis (24/9/2026).
Mereka menyuarakan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG sekaligus meminta adanya penghentian sementara atau moratorium program tersebut.
Sementara itu, di Purworejo dan Batang, proses penanganan korban serta penelusuran terhadap sumber persoalan masih berlangsung.
Besarnya jumlah warga yang mengalami keluhan kesehatan membuat pengawasan terhadap seluruh rantai penyediaan makanan menjadi sorotan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, pemorsian hingga distribusi.
Di sisi lain, pihak berwenang masih harus menunggu hasil investigasi untuk memastikan apakah terdapat hubungan langsung antara menu MBG dan gangguan kesehatan yang dialami para korban.
Dengan demikian, dugaan pelanggaran prosedur yang ditemukan di SPPG Batang maupun laporan keluhan kesehatan di Purworejo masih menjadi bagian dari proses pemeriksaan dan belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab pasti kejadian. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















