JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

NU Segera Sosialisasikan Penghapusan Istilah Kafir untuk Nonmuslim

NU
teras.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Meskipun sempat muncul komentar pro kontra, namun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berencana mensosialisasikan usulan penghapusan sebutan kafir ke nonmuslim Indonesia.

Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan, sosialisasi tersebut akan dilakukan kepada pihak-pihak terkait.

“Sosialisasi itu dilakukan baik ke internal NU maupun pihak-pihak eksternal NU,” ujar Robikin melalui pesan singkatnya, Minggu (3/3/2019).

Menurut Robikin, sosialisasi atas usulan itu memang selalu dilakukan oleh NU. Hal itu biasa dilaksanakan usai adanya usulan atau keputusan dalam kegiatan NU yang berskala nasional.

“Seperti lazimnya, seusai menggelar kegiatan berskala nasional seperti Muktamar atau Munas Alim Ulama dan Konbes NU misalnya, NU selalu melakukan sosialisasi hasil-hasilnya,” katanya.

Baca Juga :  Kasus Penipuan dan Pelecehan Seksual di Bandara Soekarno-Hatta, Pelaku Mengaku Baru Lakukan Sekali. Alasannya Ingin Uang Lebih dan Nafsu Sesaat

Usulan penghapusan sebutan kafir ke nonmuslim Indonesia tercetus dalam sidang komisi bahtsul masail maudluiyyah Musyawarah Nasional Alim Ulama NU. Sidang itu mengusulkan agar NU tidak menggunakan sebutan kafir untuk warga negara Indonesia yang tidak memeluk agama Islam.

Pimpinan sidang, Abdul Moqsith Ghazali, mengatakan para kiai berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti para nonmuslim di Indonesia.

“Dianggap mengandung unsur kekerasan teologis, karena itu para kiai menghormati untuk tidak gunakan kata kafir tapi ‘muwathinun’ atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan warga negara yang lain,” katanya di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2/2019).

Baca Juga :  Dongkrak Sektor Pariwisata yang Tersungkur, Pemerintah Beri Diskon Paket Wisata 50 Persen

Meski demikian, kata Moqsith, bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir di Al Quran atau hadis. Keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah itu hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang nonmuslim.

“Memberikan label kafir kepada WNI yang ikut merancang desain negara Indonesia rasanya tidak cukup bijaksana,” ucapnya.

www.teras.id