Aksi Mogok Makan Driver Go-Car, Go-Jek Tutup Sementara Kantor Operasional di Yogyakarta

217
Driver taksi online di Yogyakarta menggelar aksi mogok makan di halaman kantor PT. Aplikasi Karya Anak Bangsa (sebelumnya PT. Gojek Indonesia). tempo.co

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Aksi mogok makan yang dilakukan driver Go-Car di Yogyakarta berbuntut penutupan sementara kantor operasional Go-Jek Yogyakarta, Jumat (12/4/ 2019).

Aksi mogok makan yang dilakukan oleh dua pengemudi taksi online dari Front Independen Driver Online Indonesia (FI) sejak Selasa lalu, (9/4/2019), di halaman kantor Perwakilan Go-Jek tersebut mendesak perusahaan segera mengubah sejumlah kebijakan yang dinilai merugikan pengemudi.

“Dikarenakan aksi ini tidak berizin dan berbagai cara mediasi tidak dapat dilakukan, untuk mencegah gesekan yang berpotensi terjadi antara berbagai pihak, termasuk masyarakat sekitar dan ribuan mitra-mitra kami lainnya, kami menutup sementara kantor operasional di Yogyakarta mulai 12 April 2019 hingga waktu yang akan ditentukan,” ujar Michael Say, VP Corporate Affairs Go-Jek Indonesia dalam keterangannya, Jumat, (12/4/2019).

Micahel mengatakan dalam menjalankan operasionalnya di Indonesia, Go-Jek selalu mengedepankan keamanan dan kenyamanan publik. Pihaknya juga meminta maaf sebesar-besarnya untuk ribuan mitra Go-Jek lainnya yang tidak mengikuti aksi ini dan masih terus berjuang tiap hari untuk mencari nafkah bagi dirinya dan keluarganya.

“Penutupan kantor sementara ini juga penting dilakukan agar kami dapat menjaga suasana tetap kondusif jelang Pilpres dan Pileg mendatang, utamanya di Yogyakarta,” ujar Michael.

Dalam komunikasi Go-Jek dengan mitranya dari Sabang sampai Merauke, kata Michael, pihaknya selalu membuka ruang diskusi dua arah antara mitra pengemudi dan manajemen. “Melalui Kopdar Mitra Go-Jek dimana Mitra bebas menyampaikan aspirasi dan masukan mereka,” ujar Michael.

Michael mengatakan dalam aksi yang terjadi dalam beberapa hari ini pun, pihaknya telah memberikan kesempatan bagi pengemudi taksi online tersebut untuk berdiskusi dengan manajemen Go-Jek baik itu dari Jawa Tengah dan Kantor Pusat. Namun tidak pernah mendapatkan titik temu.

“Selain itu tempat teduh yang layak bagi penyampai aspirasi serta tenaga medis berikut ambulan untuk memastikan kondisi kesehatannya dalam keadaan baik juga ditolak oleh pelaku aksi”, ujar Michael.

Lebih jauh Michael menyatakan kepada seluruh mitra yang menyampaikan aksi bahwa Go-Jek siap untuk berdiskusi. “Tanpa aksi-pun seluruh aspirasi mitra selalu kami tampung, semangat kami dr pertama kali beroperasi di Yogyakarta sampai dengan sekarang masih tetap sama, yaitu agar melalui teknologi yang kami kembangkan seluruh mitra dapat memiliki peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan,” kata Michael.

Dua pengemudi taksi online yang melakukan aksi mogok itu adalah presiden dan wakil presiden Front Independen Driver Online Indonesia Yogyakarta Sabar Gimbal dan Andi Kartala. Dalam aksi itu keduanya menutup rapat mulut menggunakan lakban lalu diam di halaman kantor operator layanan.

Sesaat sebelum memulai aksi keduanya menyatakan akan berhenti makan hingga tuntutan para pengemudi terkait beberapa hal penting seperti skema insentif, open suspend dan order prioritas dihapuskan. “Ada sejumlah tuntutan kami yang merupakan hasil survei dan pengalaman yang disepakati dari semua mitra driver, serta diwakili seluruh komunitas yang tergabung dalam organisasi Front Indonesia yang jumlah anggotanya mencapai 3000 driver online,” kata Ardi Syihab, koordinator aksi.

Sedikitnya ada empat tuntutan mendasar yang diperjuangkan lewat aksi mogok itu.
Pertama, pemutihan atau pemutakhiran data akun mitra driver PT Gojek Indonesia. Hal ini dinilai penting oleh para sopir guna persiapan menghadapi diberlakukannya Permenhub nomor 118 oleh pemerintah yang di dalamnya tertera aturan mengenai kuota.

Kedua, tuntutan dihapuskannya sistem peringkat dan alokasi order. Sistem alokasi order yang diterapkan oleh Go-Jek. Saat ini dinilai sangat merugikan mitra sopir dan menimbulkan ketidakpastian nasib perekonomian mitra sopir Go-Jek.

Ketiga, paguyuban sopir menuntut diturunkannya jumlah poin skema insetif untuk wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebab skema pengumpulan insentif atau bonus yang diterapkan Go-Jek saat ini dinilai sangat memberatkan mitra sopir dan sudah jauh melebihi standar aturan jam kerja yang berlaku di Indonesia. Keempat, sopir mendesak peninjauan ulang perjanjian kemitraan untuk lebih berasaskan kesetaraan dan berkeadilan.

Ardi juga menyebutkan mogok makan merupakan akumulasi kekecewaan para pengemudi Go-Jek karena merasa dijadikan alat saja oleh penyedia aplikasi tanpa dimintai pendapat. “Aksi mogok hari ini paling pokok karena keadaan di lapangan sangat memprihatinkan. Selama satu hari penuh bekerja kami bisa tak dapat order selama tiga bulan terakhir ini,” ujarnya.

www.tempo.co