JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Disdikbud Sragen Dukung Pendirian SMA Baru di Gemolong. Tapi Soal Desakan Pembangkitan SMA SBBS, Pasrah Provinsi 

Suwardi. Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Suwardi. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen mengaku mendukung keinginan masyarakat dan tokoh Sragen Barat yang menghendaki adanya SMA baru di Gemolong.

Meski demikian, soal desakan pembangkitan kembali SMA Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) yang sudah ditutup 2017, dinas menyerahkan ke provinsi.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen, Suwardi saat ditemui Selasa (6/8/2019).

Ia mengatakan secara prinsip, dinas mendukung wacana pendirian SMA di wilayah Gemolong. Hal tersebut sesuai dengan kebutuhan saat ini, dimana jumlah lulusan SMP/MTs tidak sebanding dengan jumlah SMA negeri sehingga masih ada sebagian lulusan yang tak tertampung.

Namun, ia mengatakan kondisi terkini di lapangan perlu dipahami terlebih dahulu. Termasuk desakan pembangkitan kembali SBBS, pihaknya mengatakan hal itu belum bisa dipastikan.

Sebab saat ini fasilitas dan gedungnya SBBS sebenarnya tidak mangkrak. Justru saat ini bangunan SMA SBBS akan digunakan untuk pengembangan TK, SD dan SMP yang akan lebih dikembangkan lagi.

Baca Juga :  Kaget Golkar Berbalik Haluan, Sekretaris Gerindra Jateng Akhirnya Angkat Bicara Soal Rekomendasi Gerindra di Pilkada Sragen. Begini Penjelasannya!

“Untuk sekolah dasar saja kita sudah punya 13 rombel. SMP juga semakin berkembang, tentu saja sangat memerlukan sarana baru,” paparnya kepada wartawan.

Jika nantinya akan didirikan SMA baru, pihaknya mempersilakan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan. Bisa saja sekolah didirikan di kompleks SBBS, ataupun mencari tanah lain.

“Seluruhnya kewenangan provinsi, kita hanya bisa mendukung dengan memperhatikan kondisi yang ada. Kalau memang mau dihidupan ya itu tergantung provinsi. Kalau kita nggak punya wewenang mengajukan MoU,” terangnya.

Soal status kepemilikan tanah di SMA SBBS, Suwardi mengatakan status tanah itu masih milik Pemkab Sragen. Waktu penyerahan aset dan guru SMA ke Pemprov, aset tanah tidak diikutkan karena ditempati SD dan SMP.

Ia menambahkan soal penutupan SMA SBBS pun, sebelumnya diusulkan oleh provinsi. Kemudian penutupan juga dilakukan langsung oleh Kemendikbud.

Baca Juga :  Kesimpulan Akhir Polisi Soal Temuan Mayat Bersimbah Darah di Gading Tanon Sragen, Bukan Pembunuhan?

Sebelumnya sejumlah pihak mendesak agar SMA SBBS kembali dihidupkan. Sebab selain punya historis sebagai sekolah berstandar internasional dengan prestasi mendunia, fasilitas dan sarpras yang ada di SMA SBBS dinilai cukup mumpuni sehingga sayang jika dibiarkan terbengkalai.

Sekadar tahu, SMAN Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) Gemolong menjadi sekolah favorit di awal pendiriannya. Sekolah yang mulai dibuka tahu 2008 ini ditutup Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud per 7 Desember 2017, meninggalkan aset pendidikan senilai milaran rupiah berupa belasan ruang kelas dan ruang laboratorium.

SBBS Gemolong sempat menjalin kerjasama dengan lembaga asing asal Turki, Pasific Countries Social and Economic Solidarity (Pasiad). Kerjasama ini berakhir sejak terjadi kisruh politik di Turki, dimana Pasiad dituding pemerintah Presiden Erdogan, berafiliasi dengan kelompok pelaku aksi kudeta militer di Turki 2016 silam. Wardoyo