JOGLOSEMARNEWS.COM Umum

Berkat Madu Borneo87, Rumiyati Terbebas dari Kelainan Jantung

Rumiyati, penderita penyakit jantung yang sembuh setelah mengonsumsi madu Borneo87 / dok pribadi
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

Berkat Madu Borneo87, Rumiyati (86) kini tak perlu lagi harus kontrol atau opname ke rumah sakit. Ia juga merasa bebas dan tak bergantung lagi pada obat-obatan kimia.

Yah, sudah empat tahun lalu, warga Trimulyo I, Jalan Veteran, Gg Aster 35, Kepek, Wonosari, Gunungkidul tersebut menderita kelainan jantung.

Selama itu pula ia bergantung pada obat-obatan pemberian dari dokter rumah sakit. Saking seringnya berobat ke dokter, di RSUD Wonosari Rumiyati memiliki seorang dokter yang menjadi langganannya.

Ia sangat percaya dengan dokter tersebut, dan tak mau diobati oleh dokter lain jika penyakitnya kambuh. Dan terbukti, obat yang selalu diberikan sang dokter senantiasa mampu menyembuhkannya. Hanya saja, ketika obat habis, hampir dapat dipastikan jantungnya kambuh lagi. Demikian seterusnya.

Untuk perawatan penyakitnya, Rumiyati harus melakukan kontrol di rumah sakit dua kali dalam sebulan. Bahkan dalam keadaan yang parah, pernah suatu ketika dia dilarikan oleh keluarganya opname di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta.

“Ya sejak itu, ibu seolah tak pernah lepas dari obat-obat kimia,” ujar putrinya, Dewi Murtiningsih (58).

Dewi mengatakan, sebelum ke RS Dr Sardjito, pernah dua kali ibunya menjalani opname di RSUD Kabupaten Gunungkidul. Setiap kali opname, selama seminggu pula ia harus menunggui ibunya di rumah sakit dan meninggalkan pekerjaannya di rumah.

Seperti diketahui, serangan jantung biasanya datang secara tiba-tiba sehingga membuat keluarga di sekitarnya heboh.

Karena itu, untuk antisipasi jantung ibunya kambuh, keluarga Rumiyati menyediakan bebereapa tabung oksigen untuk berjaga-jaga.

“Soalnya, kalau jantungnya kambuh, ibu bernafasnya susah sekali. Megap-megap,” ujar Dewi.

Lama-kelamaan, penderitaan Rumiyati kian bertambah. Entah karena dampak dari kelainan jantungnya atau efek dari pengobatannya, pendengaran di telinga kanannya berkurang. Walhasil, orang harus harus berteriak atau mendekat ke telinga jika berbicara dengan Rumiyati.

Puncaknya, semangat hidup Rusmiyati seakan sirna dari wajahnya bersamaan dengan kabar bahwa sang dokter yang menjadi langganannya meninggal dunia.

“Dengar kabar itu, Ibu seperti linglung. Beliau memang akhirnya sempat ganti dokter lain, tapi selalu merasa tidak cocok. Tidak seperti dokter sebelumnya,” ujarnya.

Kepergian dokter langganannya itu seolah membuat Rumiyati merasa putus harapan. Dan sebagai pelarian dari keputusasaannya tersebut, oleh keluarganya ia diminta mengonsumsi madu. Kebetulan, tetangganya tak jauh dari rumah memiliki usaha madu ternak.

Namun upaya pengobatan dengan madu ternak itu tidak membuahkan hasil. Padahal Rumiyati sudah tidak mau lagi diajak ke rumah sakit sejak sepeninggal dokter langganannya tersebut.

Puncak kritisnya terjadi pada bulan Maret 2020. Saat itu penyakit jantung Rumiyati kambuh lagi. Seluruh badannya banjir keringat, lemas dan kecapaian. Nafasnya tersengal-sengal.

“Badannya ler-leran, nglumpruk tak punya daya,” ujar.

Dalam keadaan tak berdaya itulah, Rumiyati diboyong ke RSUD Kabupaten Gunungkidul. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan semua organ tubuhnya dalam keadaan baik, kecuali jantungnya yang memang bermasalah.

Oleh dokter ia pun diberi pil penguat jantung, dan sejak itu ia kembali rutin mengonsumsi obat-obat kimia.

Suatu ketika, saudaranya mengenalkan madu hutan Borneo87. Ia bilang, madu tersebut diambil dari hutan di pedalaman Kalimantan. Madu itu dapat dikonsumsi bersama-sama dengan obat dari dokter, karena sifatnya tidak bertentangan. Katanya, madu hanya bersifat membantu saja.

“Waktu itu kami tak punya pikiran macam-macam. Apapun alternatif asal bertujuan untuk kesembuhan, kami coba,” ujar Dewi.

Sejak itulah, Rumiyati rajin mengonsumsi madu hutan Borneo87. Setiap pagi sebelum makan, ia mengonsumsi dua sendok makan madu, lalu malam harinya sebelum tidur ia menenggak satu sendok makan.

Sekitar satu bulan berjalan, ada sesuatu yang berbeda dalam tubuh ibu Rumiyati. Pendengaran kanan yang semula berkurang, kini mulai pulih kembali. Sampai suatu ketika ada pengalaman lucu. Ketika anaknya bicara dengan suara keras, Rumiyati justru marah.

“Ngomong karo wong tuwa kok bengok-bengok (bicara sama orang tua kok teriak-teriak-red),” kisah Dewi Murtiningsih.

Ia mengaku tak tahu, pulihnya pendengaran Rumiyati itu terjadi oleh pengobatan medis, atau efek dari khasiat madu Borneo87.

Oleh rasa penasaran itu, ia mencoba mengurangi porsi obat kimia dari dokter dan tetap rajin mengonsumsi madu Borneo87.

“Ya tapi harus perlahan-lahan, karena kami juga tak mau nanti kalau kenapa-kenapa malah kami yang repot,” ujarnya.

Pengurangan obat kimia itu dilakukan perlahan-lahan, sampai akhirnya di bulan Agustus berhenti sama sekali, dan murni mengandalkan madu Borneo87. Syukurlah sejak itu hingga berjalan dua bulan sampai sekarang, Rumiyati tidak pernah kumat lagi.

“Saya tak tahu ini berkat madu Bo danrneo87 atau karena kehendak Allah. Tapi apapun, kami bersyukur ibu sudah sehat lagi,” ujarnya menutup pembicaraan. (*)