JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Tiap Hari, Laju Deformasi Gunung Merapi Capai 12 Cm

Rekaman video saat Gunung Merapi meletus pada Kamis, 13 Februari 2020 pagi. YouTube | VolcanoYT
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Belakangan ini intensitas guguran Gunung Merapi terus menunjukkan peningkatan hingga Selasa (10/11/2020) kemarin.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan sempat terdengar suara guguran sebanyak satu kali dari pos pemantauan Gunung Merapi (PGM) Babadan dengan kekuatan sedang pada periode amatan Selasa (10/11/2020) pukul 12.00-18.00 WIB.

“Terdengar suara guguran satu kali dari Pos Babadan (dengan kekuatan) sedang,” ujar Kepala BPPTKG, Hanik Humaira, Selasa (10/11/2020).

“Pada Senin (9/11/2020), laju rata-rata deformasi (perubahan bentuk) EDM (electronic distance measurement) Babadan sebesar 12 cm/hari,” imbuh Hanik.

Sebagai tambahan informasi, dikutip Tribunjogja.com dari mgm.slemankab.go.id, Deformasi bawah permukaan gunungapi memberikan petunjuk proses magma di bawah gunungapi yang dapat dijadikan indikator kemungkinan letusan gunungapi.

Pemantauan deformasi di gunungapi Merapi, salah satunya menggunakan GPS ( Global Positioning System) dan EDM ( Electronic Distance Measurement) untuk mengukur pertumbuhan kubah lava.

Baca Juga :  SMKN 1 Girisubo Gunungkidul DIY Gelar Uji Sertifikasi Kompetensi untuk 4 Kompetensi Keahlian

Teknologi GPS sangat baik digunakan untuk pemantauan deformasi gunungapi karena pengukuran GPS memberikan perubahan posisi titik pengukuran secara tiga dimensi dengan akurasi milimeter hingga centimeter, tidak terpengaruh kondisi perubahan cuaca, dapat dilakukan secara terus menetus selama 24 jam dan tidak memerlukan hubungan jarak pandang di antara titik-titik pengamatan dalam jaringan pengamatan GPS.

Melalui pengukuran secara periodik pada garis vector yang sama, diharapkan besaran dan kecepatan perubahan karena deformasi tubuh gunungapi dapat diketahui.

EDM ( Electronic Distance Measurement) untuk mengetahui deformasi yang dicerminkan oleh perubahan jarak antara alat ke reflektor yang dipasang di kawasan puncak untuk mengukur perubahan horisontal akibat deformasi.

Sejak 5 November 2020, BPPTKG telah menetapkan Gunung Merapi berstatus Siaga (level III).

Dengan status tersebut, BPPTKG menyimpulkan prakiraan daerah bahaya meliputi

Baca Juga :  Pusat Izinkan Buka Pendidikan Tatap Muka Januari 2021, Pemkot Yogya Tak Akan Paksakan Diri

Kabupaten Sleman, DIY 

Kecamatan Cangkringan; Desa Glagaharjo (Dusun Kalitengah Lor), Desa Kepuharjo (Dusun Kaliadem), dan Desa Umbulharjo (Dusun Palemsari).

Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

Kecamatan Dukun; Desa Ngargomulyo (Dusun Batur Ngisor, Gemer, Ngandong, Karanganyar); Desa Krinjing (Dusun Trayem, Pugeran, Trono); dan Desa Paten (Babadan 1, Babadan 2).

Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah

Hanik menambahkan, penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam kawasan rawan bencana (KRB) III direkomendasikan untuk dihentikan.

Pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi.

Di samping itu, pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten agar mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi setiap saat.

www.tribunnews.com