Beranda Daerah Wonogiri Pijiharjo Punya Cara Baru Atasi Masalah Petani: SATU ANGSA Bidik Pasar Bukan...

Pijiharjo Punya Cara Baru Atasi Masalah Petani: SATU ANGSA Bidik Pasar Bukan Sekadar Panen

Sayur
Salah satu komoditi Desa Pijiharjo Kecamatan Manyaran Wonogiri. Istimewa

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Petani Desa Pijiharjo, Kecamatan Manyaran, Wonogiri, selama ini menghadapi persoalan yang kerap muncul setelah panen: hasil pertanian sudah tersedia, tetapi pembeli belum tentu mudah ditemukan.

Dari persoalan tersebut, Desa Pijiharjo mengembangkan inovasi SATU ANGSA atau Sayur Sehat untuk Anak Bangsa. Program ini diarahkan untuk mempertemukan hasil pertanian lokal dengan kebutuhan pangan sehingga pemasaran hasil panen lebih terarah.

Dalam rilis yang diterima, Rabu (40/9/2026) inovasi tersebut mulai diuji coba pada 9 Februari 2026 dan memasuki tahap implementasi pada 1 April 2026. Gagasannya bergerak pada tiga bidang sekaligus, yakni pangan, pertanian, dan perdagangan.

Selama ini, petani masih banyak mencari pembeli secara mandiri. Ketika pilihan pembeli terbatas, posisi tawar petani dalam menentukan harga ikut terdampak. Dalam kondisi tertentu, hasil panen bahkan tidak langsung terserap pasar.

SATU ANGSA mencoba memotong persoalan itu dari sisi pemasaran. Dengan kata lain petani dihubungkan dengan pengelola proyek pemerintah di bidang pangan.

Penanggungjawab inovasi sekaligus Ketua TP PKK Desa Pijiharjo, Wartini, menjelaskan pelaksanaan SATU ANGSA dimulai dengan pendataan petani dan jenis hasil pertanian yang mereka produksi.

Baca Juga :  7 Tahun PEDAS, Dari Ambulans hingga Donor Darah: Kolaborasi dengan Squad Nusantara Makin Lebar

Setelah itu, kebutuhan hasil pertanian dipetakan untuk mengetahui komoditas yang diperlukan. Petani kemudian dihubungkan dengan kebutuhan di program pemerintah di bidang pangan tersebut, sementara proses penjualan dan penyaluran dilakukan berdasarkan kesepakatan.

Tahap berikutnya adalah pemantauan dan evaluasi. Mekanisme tersebut dibuat agar inovasi tidak berhenti pada pendataan, tetapi bisa terlihat manfaatnya terhadap pemasaran hasil pertanian.

Dengan pola itu, petani tidak hanya berorientasi pada produksi. Ada upaya untuk memastikan hasil yang sudah ditanam memiliki jalur pemasaran yang lebih jelas.

SATU ANGSA juga dirancang untuk memperkuat hubungan antara potensi pertanian desa dan kebutuhan pangan. Jika hasil pertanian lokal dapat terserap dengan lebih baik, perputaran ekonomi di tingkat keluarga petani pun berpeluang ikut bergerak.

Kepala Desa Pijiharjo, Ribut Sulastri, menempatkan inovasi tersebut sebagai bagian dari pengembangan inovasi daerah yang berangkat dari persoalan masyarakat.

Keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya. Pendataan petani, pemetaan komoditas, identifikasi kebutuhan, penyaluran hasil pertanian, monitoring, hingga evaluasi menjadi rangkaian yang terus disiapkan.

Targetnya bukan sekadar membuat hasil panen cepat terjual. Pijiharjo ingin membangun pola pemasaran yang lebih terarah, memperluas akses pasar, meningkatkan penyerapan hasil pertanian, dan memperkuat posisi tawar petani.

Baca Juga :  Mobil Dijual Buat Bertahan Hidup Lalu Beli Motor Bekas: Fenomena Turun Kelas Makin Ramai In This Economy

Dari level desa, SATU ANGSA membawa persoalan yang sederhana ke dalam pola kerja yang lebih terstruktur: petani menanam, hasil dipetakan, kebutuhan dicari, kemudian komoditas disalurkan sesuai pasar.

Di tengah upaya memperkuat ketahanan pangan, pola seperti ini membuat produksi pertanian tidak berhenti di lahan. Hasilnya diupayakan terus bergerak hingga memberi nilai ekonomi bagi keluarga petani dan memenuhi kebutuhan pangan dari potensi lokal. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.