loading...


Seminar Kebangsaan di Formas Sragen. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Sejumlah PNS di Kabupaten Sragen terdeteksi mulai terpapar aliran radikalisme. Tidak hanya itu, banyaknya aksi terorisme di luar daerah yang pelakunya dari Sragen, juga menguatkan  Kesbangpolinmas untuk menyebut bahwa Sragen sebagai gudangnya radikal.

“Teroris-teroris yang ditangkap di Sumatera itu dari Sragen. Itu menunjukkan bahsa Sragen ini memang gudangnya radikal,” papar

Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan dan Kesatuan Bangsa Badan Keatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sragen, Agus Indarto saat berbicara di Seminar Kebangsaan di Formas Sragen dua hari lalu.

Agus juga mengungkapkan bahwa aliram radikalisme sudah merasuki sejumlah PNS di Bumi Sukowati. Menurutnya, mereka terdeteksi mengikuti kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) meski jumlahnya belum terlalu signifikan.

Baca Juga :  Peringati Hari Disabilitas Dunia, Polres Sragen Bagi-Bagi SIM D ke Difabel. Begini Prosedur dan Persyaratannya! 

Kemudian, aliran radikalisme juga terdeteksi dengan penolakan mereka menghormat bendera. Meski demikian, Agus mengatakan upaya untuk deradikalisasi dan penyadaran terus dilakukan.

”Kita ajak dialog, silaturahmi, simpel saja kita ajak upacara bendera dan mendorong dalam kegiatan agenda nasionalisme,” urainya.

Soal pernyataan Sragen gudangnya radikal, menurutnya fakta sejarah memang berbicara demikian. Menurutnya kala zaman penjajahan, Sragen disebut sebagai tanah perdikan di mana karakter masyarakatnya menjadi radikal sehingga kemudian melekat disebut sarang penyamun.

Baca Juga :  Hari Antikorupsi Sedunia, Kapolres Sragen Serukan Suap dan Pungli Termasuk Korupsi. Masyarakat Diminta Proaktif!  

“Tapi radikal itu kan nggak mesti negatif. Kalau dulu konteksnya untuk radikal melawan penjajahan,” kata dia.

Sementara. Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) Bengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Luluk Nur Hamidah menyampaikan intoleransi dan radikalisme menjadi isu penting. Meski di minoritas terjadi kecenderungan intoleran.

“Fakta di Indonesia ada.  Ada 800 sel aktif radikalisme pada 8 tahun lalu.  Tapi itu hanya minoritas, ada peristiwa iya,tapi masyarakat indonesia masih toleran,” ujarnya.

Pihaknya menggarisbawahi bahwa sikap Intoleran bisa hidup karena ada faktor pendukung. Ini jadi masalah bersama.

”Ancaman kita deteksi, Sistem sosial semakin hari longar,  tanpa kewaspadaan dan kebersamaan. Teror bisa pakai agama apa saja. Peran keluarga penting,  perkuat basis keluarga,” kata dia. Wardoyo

Loading...