JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Sambangi Rumah Balita Miskin Yang Terancam Diamputasi, UPTPK Sragen Kaget, Saat Lihat Kondisi Dalam. Neneknya Sakit-Sakitan, Bilang Sekali Tebus Resep Mahira Rp 300.000 Bayar Sendiri

Tim UPTPK Sragen, Budi Trapsila bersama dari Baznas dan Solo peduli saat menyambangi rumah yang ditempati balita Samara Kumahira Mariba (11 bulan) di Dayu, Jatitengah, Sukodono, Selasa (10/3/2020). Foto/Wardoyo

IMG20200310103753 816x612 1
Tim UPTPK Sragen, Budi Trapsila bersama dari Baznas dan Solo peduli saat menyambangi rumah yang ditempati balita Samara Kumahira Mariba (11 bulan) di Dayu, Jatitengah, Sukodono, Selasa (10/3/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kasus balita anak keluarga tidak mampu asal Dukuh Dayu, Desa Jatitengah, Sukodono, Sragen yang terancam diamputasi karena tumor di bagian tangan dan beberapa tubuh, Samara Kumahira Mariba, memantik sejumlah pihak berempati.

Pihak Unit Pelayanan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (UPTPK) dan Baznas Sragen terlihat menyambangi rumah balita yang hari ini tepat berusia 11 bulan putri pasangan Wanto (30)-Etik Susilowati (29) itu, Selasa (10/3/2020).

Bersamaan dengan itu, yayasan Solo Peduli Sragen juga datang untuk melakukan assesment dan berencana memberi bantuan. Pihak UPTPK datang diwakili petugas dari Bagian Perekonomian, Budi Trapsila.

Namun sesampai di lokasi, tim UPTPK dan Baznas tidak bisa menemui orangtua dan balita yang akrab disapa Mahira itu. Pasalnya mereka sudah berangkat mengantarkan Mahira kontrol ke RSUD Moewardi Solo sejak pagi.

Di lokasi, tim hanya ditemui oleh nenek Mahira, Sinah (65). Tim kemudian mengecek kondisi rumah yang ditempati oleh Wanto-Etik. Saat melihat rumah pasangan buruh serabutan itu hanya kecil dan nempel di belakang rumah orangtuanya itu, tim UPTK langsung terkejut.

Baca Juga :  Innalillahi, Buruh Pabrik Boneka Tewas Mengenaskan Usai Terlindas Truk Gandeng di Masaran Sragen. Tubuhnya Dievakuasi di Bawah Roda Truk 

Pasalnya rumah yang mereka tempati hanya berdinding anyaman bambu dan tak ada penyekat antara kamar tidur dan dapur.

“Ini nggak layak. Nanti kalau sudah punya tanah sendiri, bisa diajukan bantuan RTLH. Tapi kalau dari UPTPK besarannya paling cuma Rp 5-6 juta. Sisanya nanti swadaya,” papar Budi Trapsila.

Budi terlihat miris melihat kondisi rumah yang ditempati Wanto dan Etik. Ia menyampaikan kedatangan UPTPK untuk mengecek ke lapangan kondisi sebenarnya.

Sementara terkait kondisi penyakit Mahira, Budi mengatakan keluarga mereka sudah terdaftar punya Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Dengan kartu KIS itu memang bisa bebas biaya saat berobat ke Puskesmas atau Rumah Sakit pemerintah kelas III. Namun ada batasannya yang dibiayai dan untuk kasus-kasus penyakit berat juga ada pembatasan yang ditanggung oleh pemerintah.

Terkait kasus penyakit Mahira yang dinilai sudah menyebar dan terancam diamputasi, Budi menyampaikan nantinya akan dilaporkan ke bupati agar bisa diberi bantuan biaya untuk membackup penanganan Mahira.

“Mudah-mudahan bupati berkenan bantu yang lain. Untuk bantuan makan nanti akan kami upayakan, ada yang lainnya bisa dengan Baznas. Biasanya dari bupati bantu backup. Sekali ambil obat berapa, nanti biasanya dibantu selama menunggu operasi. Pemkab siap berupaya dan biasanya juga dibantu,” tukasnya.

Baca Juga :  Buruan, Pemutihan Denda Pajak Kendaraan di Sragen Masih Diperpanjang. Dilayani Tiap Hari Sampai Sabtu, Pembayar Sudah Ada Peningkatan 15 %

Bantuan biaya itu nantinya diharapkan bisa meringankan beban. Kalau denhmgan KIS kan pengobatan sudah terbackup, hanya kendala biaya untuk nebus obat, nanti diupayakan dibantu.

Nenek Mahira atau orangtua Etik, Sinah menuturkan putrinya itu memang tinggal di rumah belakang karena sudah pingin berumahtangga sendiri.

Akhirnya ia berinisiatif membuat sekat di rumah belakang. Namun sejak kejadian Mahira kena gigitan kutu kucing yang berimbas penyakit tumor, oleh bidan agar Mahira dan keluarga sementara tidurnya dipindah ke rumah depan yang ia tempati.

“Saya ini juga sakit. Kaki saya ini dipakai jalan sakit. Ini tadi sejak pagi Mahira dibawa kontrol ke Solo diantar pakai mobil Lazismu. Paling pulangnya siang. Kakau saran dokternya kemarin kalau memang tidak segera ditangani, maka akan diamputasi. Harapannya segera ada penanganan dan bantuan. Sebab meski punya KIS, tapi untuk biaya ngantar dan resep obat bayar sendiri,” tukasnya. Wardoyo