Beranda Daerah Solo Dampak El Nino, Suhu Panas Menyengat di Solo dan Sekitarnya Diprediksi Bertahan...

Dampak El Nino, Suhu Panas Menyengat di Solo dan Sekitarnya Diprediksi Bertahan hingga Akhir November

Cuaca panas. Pixabay

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Cuaca panas yang melanda Kota Solo dan wilayah sekitarnya diperkirakan masih berlangsung hingga November 2026.

Fenomena El Nino yang berdampak pada berkurangnya curah hujan, ditambah posisi semu matahari pada Oktober, membuat suhu udara terasa lebih menyengat.

Ketua Tim Manajemen Sistem Operasi Stasiun Meteorologi Jenderal Ahmad Yani Semarang, Giarto, mengatakan El Nino menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang dan curah hujan lebih rendah dibandingkan kondisi normal.

“Secara umum, wilayah Indonesia saat ini terdampak fenomena El Nino. Dampaknya, musim kemarau menjadi lebih panjang dan curah hujan lebih sedikit dibandingkan normalnya,” ungkap Giarto saat dihubungi, Rabu, (14/10/2026).

Menurutnya, Oktober secara klimatologis merupakan salah satu periode terpanas dalam setahun. Kondisi tersebut diperparah oleh berkurangnya tutupan awan sehingga radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi menjadi lebih tinggi.

“Sedikitnya tutupan awan membuat radiasi matahari yang diterima permukaan bumi cukup tinggi. Ditambah kondisi yang lebih kering akibat El Nino, suhu udara menjadi lebih panas,” sambungnya.

Giarto menjelaskan, suhu yang dirasakan masyarakat juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Kawasan dengan banyak permukaan aspal, jalan raya, dan bangunan cenderung terasa lebih panas dibandingkan wilayah yang memiliki vegetasi lebih banyak.

Giarto menyebut suhu maksimum yang tercatat di wilayah Semarang pada 2026 mencapai 37,1 derajat Celsius pada pekan sebelumnya. Sementara itu, suhu maksimum di sejumlah wilayah lain yang disebutkannya masih berada pada kisaran 35–36 derajat Celsius.

Meski demikian, ia menegaskan kondisi panas tahun ini bukan yang terparah sepanjang catatan yang disampaikannya. Menurut Tri, suhu pada tahun ini memang lebih panas dibandingkan dua tahun sebelumnya, tetapi belum melampaui kondisi pada 2015 yang disebutnya sebagai salah satu periode terpanas.

Baca Juga :  Sarasehan di Monumen Pers Solo, Sejumlah Tokoh Bedah Tantangan Pengamalan Pancasila  

Terkait suhu di Kota Solo, Giarto mengatakan dirinya tidak memegang data historis yang dapat digunakan untuk memastikan rekor suhu tertinggi di wilayah tersebut. Karena itu, angka suhu Semarang tidak dapat serta-merta dijadikan patokan untuk kondisi di Solo.

Masyarakat Solo Raya masih perlu bersabar menantikan peningkatan frekuensi hujan. Tri memperkirakan hujan mulai lebih terlihat di sejumlah wilayah pada November, khususnya dasarian III atau periode 21–30 November 2026.

“Untuk November, hujan mulai terlihat di beberapa wilayah pada dasarian III, artinya setelah tanggal 20 November,” jelasnya.

Perkiraan tersebut menunjukkan kondisi panas dan kering masih berpotensi dirasakan masyarakat dalam beberapa pekan ke depan. Namun, waktu turunnya hujan dapat berbeda antardaerah, sehingga masyarakat tetap perlu memperhatikan pembaruan informasi cuaca dari BMKG.

Menghadapi kondisi panas dan kering, Giarto mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk menekan risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas dan radiasi matahari.

“Kurangi kegiatan di luar ruangan karena radiasi matahari cukup tinggi. Paparan panas tersebut dapat memengaruhi kondisi fisik kita,” katanya.

Selain itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran lahan. Material kering di permukaan tanah dinilai lebih mudah terbakar, terlebih dengan kondisi wilayah yang kering dan angin yang masih bertiup dari arah timur.

Giarto secara khusus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran apabila tidak diperlukan. Jika pembakaran tidak dapat dihindari, kegiatan tersebut harus diawasi secara ketat agar api tidak merembet dan memicu kebakaran yang lebih besar.

Baca Juga :  Dianggap Bisa Mendulang Suara Lebih Bagus, Jokowi Diminta Jadi Ketua Umum PSI

“Untuk kondisi saat ini, material sebaiknya tidak dibakar jika memang tidak diperlukan. Kondisi wilayah sedang kering dan angin masih cukup kuat. Jangan sampai kejadian seperti kebakaran di Putri Cempo terulang,” tegasnya.

Dampak kemarau yang lebih panjang juga perlu diantisipasi sektor pertanian. Tri meminta petani mempertimbangkan ketersediaan air sebelum menentukan jenis tanaman yang akan dibudidayakan.

Menurutnya, pemilihan tanaman yang membutuhkan banyak air perlu disesuaikan dengan kondisi curah hujan yang diperkirakan lebih rendah dibandingkan biasanya.

“Petani harus cermat memilih tanaman. Jangan sampai menanam komoditas yang membutuhkan banyak air ketika ketersediaan air dan curah hujan relatif terbatas,” pungkasnya.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat di Solo Raya diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca panas, menghemat penggunaan air, serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran selama musim kemarau masih berlangsung. Ando

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.