Beranda Umum Nasional SMRC Beri Skor Prabowo 5,1, Komitmen Profesionalisme TNI-Polri Cuma 4,2

SMRC Beri Skor Prabowo 5,1, Komitmen Profesionalisme TNI-Polri Cuma 4,2

Presiden Prabowo Subianto | Instagram

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Komitmen Presiden Prabowo Subianto terhadap profesionalisme TNI dan Polri menjadi titik terlemah dalam penilaian kualitas kepemimpinannya oleh kelompok akademisi dan jurnalis. Dalam studi Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), indikator tersebut hanya memperoleh skor 4,2 dari skala 0–10, lebih rendah dibandingkan lima aspek kepemimpinan lainnya.

Secara keseluruhan, Prabowo mendapat nilai rata-rata 5,1. Hasil ini merupakan bagian dari studi kepemimpinan nasional demokratik-transformatif yang melibatkan 200 opinion leaders atau pemuka opini dari kalangan akademisi dan jurnalis.

Temuan tersebut dipaparkan pendiri SMRC, Saiful Mujani, dalam presentasi bertajuk “Kepemimpinan Nasional Demokratik-Transformatif: Survei Opinion Leaders” di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (15/10/2026). Penelitian dilakukan pada September 2026 dengan menilai 31 tokoh nasional berdasarkan sejumlah dimensi kepemimpinan.

Rendahnya skor profesionalisme TNI-Polri menjadi sorotan karena indikator ini berkaitan dengan pembatasan peran kedua institusi sesuai fungsi masing-masing. TNI diharapkan berfokus pada pertahanan, sedangkan Polri menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Dalam studi tersebut, sebanyak 84 persen responden menempatkan pembatasan fungsi TNI dan Polri sebagai kriteria yang sangat penting bagi seorang calon presiden.

Skor 4,2 yang diperoleh Prabowo pada indikator tersebut juga sama dengan nilai Kaesang Pangarep. Angka itu sekaligus menjadi nilai terendah Prabowo di antara enam aspek kepemimpinan yang dinilai SMRC.

Baca Juga :  Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran Versi CELIOS: Amran Terbaik di Antara Menteri yang Masih Menjabat

Pada indikator lainnya, Prabowo memperoleh skor 4,9 untuk empati dan 5,1 untuk kapabilitas. Sementara itu, komitmennya terhadap politik luar negeri bebas aktif mendapat nilai 5,3, kemampuan memimpin 5,5, serta sikap pluralis-inklusif 5,8.

Dengan demikian, aspek sikap pluralis-inklusif menjadi dimensi dengan skor tertinggi bagi Prabowo dalam penilaian tersebut. Sebaliknya, komitmen terhadap profesionalisme TNI-Polri berada di posisi terbawah.

Dibandingkan sejumlah tokoh lain, skor rata-rata Prabowo juga berada di bawah Mahfud MD dan Dedi Mulyadi. Dalam studi yang sama, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memperoleh nilai rata-rata 4,4. Adapun Mahfud MD mendapat skor 7,6, sedangkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meraih 7,0.

SMRC menjelaskan, penilaian itu dimaksudkan untuk menggambarkan persepsi responden terhadap kualitas kepemimpinan para tokoh berdasarkan indikator yang telah ditentukan. Hasil tersebut bukan pengukuran langsung atas tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Prabowo.

Saiful mengatakan, pemilihan kelompok pemuka opini dilakukan karena mereka dinilai memiliki pengetahuan relatif lebih mendalam mengenai figur-figur nasional yang menjadi objek penilaian.

“Pemilih pada umumnya tidak cukup punya informasi untuk menilai calon presiden secara mendalam. Karena itu kami bertanya kepada kelompok yang relatif lebih tahu tentang tokoh-tokoh ini. Penilaian mereka diharapkan menjadi bahan pertimbangan pemilih agar memilih pemimpin yang bervisi demokratik-transformatif,” kata Saiful.

Baca Juga :  BGN Era Dadan Beli 19.269 Motor Listrik, 5.585 Unit Ternyata Tanpa Baterai! Negara Rugi Rp 863 M  

Dari total 200 responden, sebanyak 166 orang merupakan akademisi atau ilmuwan dari berbagai bidang, sedangkan 34 lainnya adalah jurnalis. Mereka diminta memberikan nilai dalam rentang 0–10 kepada 31 tokoh nasional berdasarkan enam indikator, mulai dari kapabilitas hingga komitmen terhadap profesionalisme TNI-Polri.

SMRC mengakui pemilihan responden tidak menggunakan metode acak. Hal itu disebabkan tidak tersedianya daftar populasi opinion leaders secara nasional. Sebagai gantinya, pemilihan dilakukan melalui teknik snowballing, terutama dengan memanfaatkan jaringan media massa nasional dan daerah.

Atas dasar metode tersebut, SMRC menegaskan hasil penelitian bersifat deskriptif dan hanya mencerminkan penilaian para responden yang terlibat. Temuan itu tidak dapat dianggap mewakili seluruh kelompok pemuka opini di Indonesia.  [*]  Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.