loading...


Pengurus kelompok tani Desa Gawan, Sutarno. Foto/JSnews

SRAGEN– Kebijakan pemerintah mendatangkan beras impor sebanyak 500.000 ton menuai kecaman dari kalangan petani di wilayah Sragen. Mereka mengecam kebijakan impor karena dianggap akan merugikan petani yang sebagian kini mendekati panen raya padi.

Para petani juga menyayangkan kebijakan pemerintah Jokowi yang dinilai bertolak belakang dengan janji saat kampanye yanh akan melindungi petani dengan menekan impor. Bahkan, sejak kabar impor beras baru beredar sepekan lalu,  harga tebasan padi saat ini langsung merosot antara Rp 1 hingga Rp 2 juga per patok.

Kecaman itu datang salah satunya dari pengurus kelompok tani di Dukuh Ngamban,  Desa Gawan,  Tanon,  Sragen, Sutarno. Menurutnya impor beras itu sangat merugikan petani di daerahnya yang saat ini sudah memulai masa panen.

Baca Juga :  Pengurus DPC dan PAC Sedulur Jokowi Sragen Resmi Dikukuhkan, Bertekad Menangkan Jokowi-Maruf di Atas 70 % 

Sejak berembus kabar impor beras, harga tebasan di sawah dalam beberapa hari terakhir terus anjlok. Jika sebelum ada kabar impor,  harga tebasan satu petak seperempat hektare bisa mencapai Rp 8 juta, beberapa hari terakhir harga langsung anjlok menjadi tinggal Rp 6-7 juta.

“Padahal sekarang biaya produksi makin mahal. Lha kok panen mau dapat harga agak bagus, malah didatangkan impor. Akhirnya harga langsung anjlok. Dan selalu begitu.  Setiap mau panen malah ada isu impor beras. Kayak gini apa nggak mateni petani, ” paparnya Rabu (17/1/2017).

Baca Juga :  Sudah 4 Nyawa Melayang Usai Jalan Tol Sragen-Ngawi Diresmikan oleh Presiden Jokowi di Sragen

Keluhan senada disampaikan Parmanto,  petani di wilayah Kecamatan Sidoharjo. Ia juga menyayangkan kebijakan impor beras di saat petani wilayahnya juga sudah memasuki panen raya. Dampaknya,  harga gabah juga langsung merosot.

“Sebenarnya panen ini harganya lumayan bagus untuk petani. Yang laku paling awal seminggu lalu,  satu petak masih ditebas sampai Rp 8,5 juta. Gara-gara ada isu beras impor,  harga tebasan juga turun. Yang bagus hanya Rp 7 juta atau lebih sedikit. Yang kurang bagus hanya Rp 6 lebih dikit. Biasanya isu impor itu jadi senjata penebas untuk nurunkan harga, ” tukasnya. Wardoyo

Baca Juga :  Pembobolan Rumah di Ngrombo Tangen, Pelaku Pilih Gondol Vario dan Tinggalkan Yamaha Vixion

 

Loading...