JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Korban Pencabulan Guru SD di Gemolong Sragen Satu Persatu Siap Untuk Melapor. Korban Yang Berhenti Sekolah, Masih Syok Berat dan Terus Menangis

Koordinator APPS Sragen, Sugiarsi didampingi Psikolog Dewi Novita saat memberikan terapi psikis kepada siswi SD di Gemolong yang menjadi korban pencabulan gurunya, Kamis (22/2/2018). Foto/Istimewa
Koordinator APPS Sragen, Sugiarsi didampingi Psikolog Dewi Novita saat memberikan terapi psikis kepada siswi SD di Gemolong yang menjadi korban pencabulan gurunya, Kamis (22/2/2018). Foto/Istimewa

SRAGEN– Kasus pencabulan yang diduga dilakukan oknum guru di sebuah SD di Kalangan,  Gemolong berinisial SW (59) kembali memunculkan fakta baru. Sejumlah mantan siswi yang merasa pernah menjadi korban sang guru, satu persatu mulai angkat bicara dan siap untuk melapor ke Polres Sragen.

Diperkirakan,  jumlah korban pencabulan pun semakin banyak. Bahkan,  Koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) Sragen,  Sugiarsi memperkirakan jumlah korban dimungkinkan tak hanya 13 orang namun bisa lebih dari itu.

“Ada empat korban lagi yang kemarin minta didampingi untuk melapor ke Polres Sragen.  Yang dua sudah membuat surat kuasa pendampingan. Yang duanya lagi juga siap untuk melapor, ” papar Sugiarsi Selasa (5/3/2018).

Dengan bertambahnya korban yang satu persatu bersedia melapor,  ia menengarai masih ada banyak korban yang masih menutupi. Sebab dari penuturan orangtua salah satu korban,  sebut saja Mawar (11) siswi kelas V yang saat ini trauma berat dan memilih berhenti sekolah,  aksi bejat si guru itu sudah berlangsung sejak 2010.

Baca Juga :  Gagal Maju Pilkada Sragen, Sukiman-Iriyanto Disebut Jadi Korban Kapitalidasi Proses Rekom Parpol. Rekom Butuh Bermiliar-Miliar, Rus Utaryono Sesalkan Parpol Tunduk Pada Oligarkhi Oportunistik

Bahkan sebagian korban diketahui saat ini sudah duduk di bangku SMP, SMA dan ada pula yang sudah bekerja.

Termasuk beberapa korban yang akan melapor,  saat ini diketahui sudah duduk di SMP.

“Korbannya sebagian sudah lulus. Ada yang sudah SMP bahkan ada yang sudah kerja,” terangnya.

Menurut rencana,  laporan lanjutan akan dilakukan besok (Selasa, 6/3/2018). Sugiarsi menambahkan dengan fakta itu ia berharap Polres bisa mengusut tuntas kasus itu.  Pasalnya dampak bagi korban sangat tragis. Seperti Mawar yang saat ini masih trauma berat sampai seperti kehilangan kesadaran.

“Anaknya masih nangis terus kalau ditanya dan eneke mung ndingkluk belum mau bicara. Makanya ini juga terus kami dampingi dan terapi agar psikisnya bisa terangkat dan mau bicara. Ini kami masih terapi terus bersama psikolog Novi. Agar korban mau bicara, ” terang Sugiarsi.

Baca Juga :  Diduga Langgar Kode Etik, 5 Anggota Bawaslu Sragen Bakal Disidang DKPP Besok Pagi. Disebut Terkait Rekrutmen Panwascam!

Terpisah,  Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman melakui Kasat Reskrim AKP Juli Monasoni memahami desakan warga. Saat ini penyidik sudah dikerahkan untuk melakukan pendalaman maupun penyelidikan.

Namun menurutnya untuk bisa menangkap tersangka, ada mekanisme dan persyaratan mininal terpenuhi dua alat bukti terlebih dahulu.

“Sementara sampai sekarang kami belum bisa memintai keterangan dari salah satu siswi yang menjadi korban. Dia masih trauma berat, ” paparnya.

Kasat Reskrim menguraikan sejauh ini kendala terbesar menuntaskan kasus itu adalah belum bisanya penyidik memintai keterangan korban, Mawar (11) yang masuh menutup bicara. Karenanya pihaknya masih menunggu kepulihan korban dan bisa dimintai keterangan. Timnya juga sudah mendatangi rumahnya bersama dinas sosial dan tim Pemkab.

“Kita kan nggak bisa memaksa karena itu kaitannya juga dengan privacy. Kemarin tim sudah ke sana tapi korban belum mau membuka memberi keterangan, ” tukasnya. Wardoyo