loading...
Loading...
Kalapas bersama jajaran saat mengantar napi yang bebas. Foto/Wardoyo

SRAGEN- Komitmen menuju zona integritas wilayah bebas korupsi (WBK) – wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM) yang dicanangkan manajemen Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Sragen beberapa waktu lalu, agaknya tak sekadar janji belaka.

Dua pekan setelah pencanangan, perubahan besar terlihat di sejumlah aspek di LP tersebut. Tak hanya perwajahan, sejumlah fasilitas dan suasana pelayanan kini sudah berubah total.

Tercatat ada 8 aspek perubahan besar yang digeber oleh otoritas setempat. Yakni ruang tunggu tamu dan pembesuk di dekat pintu masuk. Jika sebelumnya tanpa kursi, kini berubah drastis dilengkapi dengan kursi serta fasilitas minuman air putih.

Pengunjung yang dulu keleleran menunggu panggilan, kini bisa menunggu dengan lebih nyaman. Para pengunjung juga akan lebih tertib karena kini sudah ada nomor antrian.

“Yang kedua, kita sudah lengkapi jalur untuk penyandang disabilitas mulai dari pintu masuk, ke ruangan registrasi hingga ke aula dan tempat pemeriksaan. Sehingga ketika ada warga binaan atau kerabatnya yang menyandang disabilitas sudah lebih nyaman bisa melintasi jalur khusus,” ujar Kasie Giatja Lapas Sragen, Triyono, kemarin.

Tranformasi besar ketiga adalah penyediaan taman bermain anak yang dibangun di dekat aula. Kehadiran taman itu diharapkan bisa menjadi sarana bagi anak-anak warga binaan agar lebih nyaman saat berkunjung.

Baca Juga :  Gebrak Jateng, Sandiaga Pilih Kampanye Terbuka Perdana di Sragen Besok Siang. Hadiri YES, Target 5.000 Enterprenur dan Millenial Soloraya 

Lantas perubahan keempat, terlihat pada banner, MMT dan pesan terkait perbaikan pelayanan sepenuh hati yang menyambut dari depan hingga masuk ruangan dalam. Ada menolak gratifikasi, stop pungli hingga nomor yang bisa dihubungi untuk melapor.

Perubahan kelima terletak pada semangat transparansi terhadap pelayanan lewat kotak aduan. Menurut Kalapas Sragen, Yosef Benyamin Yembise kotak aduan itu digagas dengan membuat tiga kotak beda warna yang ditempatkan di depan pintu masuk. Setiap tamu atau pengunjung yang selesai berkunjung diminta menulis ke secarik kertas kekurangan serta menilai pelayanan petugas dalam skala baik, cukup atau tidak baik.

“Selanjutnya yang paling penting kita galakkan untuk menanamkaan mindset ke semua petugas dan pegawai agar selalu memberi pelayanan yang mengedepankan senyum, sapa dan salam. Sehingga tamu dan warga binaan bisa lebih nyaman. Karena kita ini sebenarnya adalah pelayan, seragam ini hanya sarana untuk melayani. Jiwa itu yang ingin kita tumbuhkan,” tutur Yosef.

Areal taman bermain anak di dekat aula di Lapas Sragen. Foto/Wardoyo

Selanjutnya ada terobosan kawasan wajib senyum yang dibuat untuk membiasakan semua pegawai melayani dengan senyum. Transformasi terakhir yakni adanya giat apel semua pegawai yang sebelumnya nyaris tak pernah dilakukan, kini digelar setiap pagi di halaman depan Lapas.

Baca Juga :  Awas, Fenomena Caleg Unggulan Bernomor 02 di Sragen Bisa Berimbas Buruk. Hasil Simulasi, 50 % Pemilih Ternyata Salah Coblos ke Partai Gerindra 

“Dulu informasinya kalau apel di dalam. Apa-apa serba tertutup sehingga kesannya Lapas itu tempat angker. Sekarang kita gelar setiap pagi di depan sehingga terbuka masyarakat bisa tahu kalau kita siap melayani,” terang Yosef.

Ia mengakui untuk merubah berbagai aspek itu memang tak semudah membalik telapak tangan. Namun secara bertahap dan dengan pendekatan, ia merasakan semangat menata dan memperbaiki pelayanan sudah mulai terlihat di jajaran pegawai.

“Sekarang hasilnyabsudah mulai terlihat dan semua mendukung. Ya memang harus sabar, karena ini ibarat bangkit dari tidur panjang,” tandas Kalapas kelahiran Bumi Cenderawasih itu.

Perubahan besar itu rupanya berbuah positif. Wajah baru dan pelayanan ramah dari petugas yang ada di luar, tanpa sengaja terpotret oleh warga yang melintas sehingga menggoda beberapa dari mereka untuk singgah.

Salah satunya, Pingkan (48) warga asal Semarang. Ia bersama keluarganya mendadak berhasrat untuk mampir ke Lapas setelah melihat dari luar.

“Tadi kami lihat waktu beberapa pegawai mengantar napi yang keluar. Kelihatannya kok bagus pelayanannya. Akhirnya saya penasaran, tergerak pingin lihat ke dalam. Saya pingin tahu dalamnya dan ketemu dengan napi-napi yang ada. Untuk sedikit beri berkat. Saya juga enggak tahu, tiba-tiba pingin mampir. Padahal tadinya ndak mau ke sini. Tadi cuma lewat dari Semarang dan jalan ke terminal Sragen sekalian nengok Bapak di Sragen,” papar Pingkan didampingi suaminya.

Baca Juga :  Misteri Pembantaian Hingga Tewas di Gondang Sragen. Ada Kalimat Candi Cetho Sebelum Korban Dihajar Hingga Tak Bernyawa 

Setelah melihat kondisi di dalam, Pingkan mengaku kaget. Sebab bayangan penjara yang selama ini di benaknya terkesan tempat yang angker dan menyeramkan, ternyata berbeda 180 derajat ketika melihat apa yang ada di Lapas Sragen.

Saking terkesannya, Pingkan yang datang bersama suami, anak dan temannya, akhirnya menyerahkan berkat berupa sejumlah kitab suci dan makanan untuk dititipkan ke napi.

“Ya ada sedikit berkat tadi untuk napi,” tukasnya. Wardoyo

 


Loading...