loading...
Loading...
Tim evaluator KemenPAN-RB saat meninjau dapur umum di Lapas Kelas II A Sragen dalam rangka penilaian program zona WBM-WBBK, Jumat (25/10/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Tim evaluator dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara- Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) terkejut saat melakukan verifikasi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Sragen, Jumat (25/10/2019). Mereka kaget setelah melihat sarana dan alur pelayanan yang ada di Lapas Sragen yang dinilai sudah menunjukkan peningkatan.

Hal itu diungkapkan tim evaluator Kemen PAN-RB saat melakukan kunjungan verifikasi terkait program pembangunan zona integritas menuju wilayah bebas korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih melayani (WBBM) di Lapas Sragen tadi siang.

Salah satu evaluator Kemen PAN-RB. Septian Kurnia Nugraha mengatakan dari hasil penilaian dan verifikasi yang dilakukannya, pihaknya mengakui sudah ada peningkatan baik dalam pembangunan sarana, fasilitas dan pelayanan terhadap pengunjung maupun warga binaan (napi).

“Sementara sudah terjadi peningkatan terkait dengan pelayanan. Upaya-upaya untuk berintegritas sudah mulai nampak. Pembangunan sarana dan personel juga sudah ada peningkatan,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM, di sela mengecek di Lapas Sragen tadi siang.

Septian menguraikan peningkatan itu terlihat dari perbandingan hasil desk evaluasi pembangunan integritas yang dilaksanakan di Jakarta dua bulan silam.

Menurutnya, verifikasi dilakukan sebagai tindaklanjut untuk mengecek kondisi di lapangan. Septian menyebut ada tiga fokus yang ditekankan dalam pembangunan zona WBK-WBBM.

Yakni membangun budaya integritas, budaya kinerja dan budaya melayani.

“Lapas Sragen ini baru pertama kali. Kemarin-kemarin mengajukan tapi belum pernah lolos. Sekarang dengan lolosnya Lapas Sragen ini maka sudah  mengindikasikan adanya perbaikan-perbaikan. Nanti apabila lulus, maka ujungnya unit kerja ini akan dapat predikat wilayah bebas korupsi. Ini ibaratnya sudah masuk semifinal, finalnya nanti ada di hasil panel akhir antara pimpinan dan evaluator lainnya,” tandas Septian.

Baca Juga :  Trauma Rentenir, Ratusan Pedagang Pasar Gondang Sepakat Tolak Praktik Pinjaman Berkedok Koperasi dari Orang-orang Batak 
Tim KemenPAN-RB saat memantau seorang napi wanita yang melakukan video call dengan keluarganya di ruang layanan komunikasi. Foto/Wardoyo

Dalam kegiatan verifikasi tadi, tim sempat mengecek sejumlah lokasi pelayanan pengunjung, ruang pelayanan menyusui, ruang pelayanan telepon dan video call untuk napi, dapur umum, hingga ruangan perawatan.

Septian menambahkan untuk menuju zona integritas WBK-WBBM, yang ditekankan adalah memberantas pungli, kemudian alur mekanisne pengunjung atau keluarga napi, dijalankan secara jelas.

Lantas, hak-hak napi disampaikan dan dipenuhi secara transparan.

“Keluarga napi juga harus tahu biaya-biaya yang perlu untuk membina dan mensupport warga binaan yang ada di dalam,” tukasnya.

Sementara, Kalapas Sragen, Yosef Benyamin Yembise mengatakan pada prinsipnya pembenahan dan perbaikan di Lapas Sragen dilakukan mengalir saja.

Sejak mengemban tugas memimpin Lapas Sragen, pihaknya memang sudah mencanangkan gerakan perubahan mulai dari normalisasi internal, pembinaan warga binaan, dan mengintensifkan koordinasi dengan semua unsur.

“Kita ngalir saja. Dari awal kita bangun koordinasi dengan pemerintahan, LSM, aparat penegak hukum dan semua unsur sampai akhirnya dipilih Kanwil Hukum dan HAM Jateng untuk diusulkan zona WBK-WBBM,” ujarnya.

Kalapas kelahiran Papua itu menguraikannsemangat perubahan yang diusungnya, lebih untuk menuju Lapas yang lebih baik. Memberikan pelayanan kepada masyarakat atau pengunjung secara transparan hingga memberikan pembinaan warga binaan dengan kejar paket maupun pelatihan-pelatihan.

“Sebagai pimpinan Lapas, saya bisa katakan Lapas Sragen sudah makin baik.  Bahkan saat ini kita sudah sediakan layanan telepon dan video call. Kapan saja masyarakat mau kontak keluarga yang ada di dalam, bisa memanfaatkan fasilitas itu. Bisa juga menanyakan hak-hak warga binaan,” terangnya.

Baca Juga :  Heboh Kabar 8 Buruh Tandur di Sragen Tewas Kesetrum, Begini Fakta Sebenarnya! 
Yosef Benyamin Yembise. Foto/Wardoyo

Sementara untuk membekali warga binaan, selama ini manajemen sudah menggelar pelatihan jasa konstruksi dengan menggandeng Kementerian PUPR, pelatihan kejar Paket B dab C serta kerjasama dengan PKBM untuk memberantas buta aksara.

“Kemarin 30 napi sudah dapat sertifikat pelatihan jasa konstruksi, tanggal 30 Oktober besok kita akan buat MoU dengan PKBM untuk kejar paket A,B dan C. Insyaallah, kami juga menggandeng UNDIP untuk memberikan pembinaan kemandirian di bidang pertanian. Juga kita gandeng Perpusda kaitannya dengan pelayanan perpustakaan,” urainya.

Menurut Yosef, sinergitas semua pihak diakuinya sangat diperlukan. Sebab pihaknya menyadari Lapas tidak bisa jalan sendiri tanpa dukungan yang lain. “Termasuk insan pers yang banyak membantu mengekspos upaya dan perbaikan yang sudah kami lakukan sehingga mendapat dukungan dari berbagai pihak,” tandasnya. Wardoyo

 

Loading...