JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Bupati Sragen Kekeh Tolak Buat Karantina Untuk Pemudik, Target Satgas Covid 208 Desa Kelar Pekan Depan. Warga Pemudik Juga Ogah Dikarantina Massal

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Foto/Wardoyo
Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati tetap pada pendirian untuk tidak akan membuat lokasi karantina atau isolasi untuk pemudik.

Sebaliknya, ia menegaskan akan mempercepat pembentukan Satgas COVID-19 di 196 desa dan kelurahan di seluruh Sragen yang ditarget selesai pekan depan.

“Daerah lain, para bupati sudah membuat instruksi desa harus membuat tempat karantina untuk pemudik, saya tidak mau. Kita punya kebijakan beda. Kalau desa diwajibkan bikin tempat karantina, pasti tidak akan mampu,” kata Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati dalam sambutannya di Desa Karangwaru, Kecamatan Plupuh, Selasa (7/4/2020).

Ia mengungkapkan, satgas COVID-1 desa ini yang akan menjadi ujung tombak pemerintah terutama dalam pengawasan para pemudik. Menurutnya, pembentukan Satgas COVID-19 desa itu dinilai jauh lebih efektif dibanding menyediakan lokasi khusus sebagai tempat karantina pemudik.

“Saya terus keliling dan sebagian besar desa sudah (membentuk Satgas COVID-19), lebih dari separuh. Dari delapan desa yang aku datangi tadi, sudah ada satgasnya semua. Kita targetkan minggu ini selesai,” katanya.

Lebih lanjut, ia kembali menekankan pentingnya pembentukan Satgas COVID-19 desa. Ia juga meminta peran aktif warga dan ketua RT untuk melakukan pengawasan para pemudik, terutama untuk memastikan mereka melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Baca Juga :  Gawat, Satu PNS di Pemda Sragen Positif Terpapar Covid-19, Berasal dari Karangmalang, Tertular dari Tetangganya!

Menurutnya hal itu jauh lebih efektif daripada mewajibkan lokasi karantina di desa. Dengan membuat lokasi khusus karantina artinya pihak desa harus menyediakan 14 lokasi karantina berbeda dengan fasilitas yang sama baiknya.

“Jika seluruh pemudik hanya dikumpulkan dalam satu lokasi, justru berisiko membuat seluruhnya tertular. Karena semestinya, pemudik yang tiba terlebih dahulu, tidak boleh dicampur dengan pemudik yang tiba hari berikutnya,” urainya.

Sementara dengan satgas COVID-19 di setiap desa, nantinya ada relawan yang akan bertugas mengawasi para pemudik sehingga mereka benar-benar melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Para pemudik atau pelaku perjalanan setiap hari akan dipantau. Seluruh perkembangan yang terjadi, harus segera dilaporkan ke Satgas COVID-19 kabupaten dan jika ada warga yang mengalami gejala bisa segera terdeteksi dan ditangani.

“Jika ada yang lupa laporan, pak RT wajib menanyakan. Jika ada yang lapor gejala sakit, RT langsung menghubungi bidan desa. Bidan desa segera cek. Jika memang gejala mengarah COVID-19, langsung hubungi rumah sakit. Rumah sakit yang akan jemput,” tukas Yuni.

Baca Juga :  Geger Mayat Pria Ditemukan Tergeletak di Persawahan Desa Jurangjero Karangmalang Sragen. Saat Ditemukan Dalam Kondisi Begini!

Kebijakan meniadakan karantina bagi pemudik, juga menuai respon positif dari warga. Salah satu warga Taraman, Sidoharjo, Alex, yang baru pulang dari Pekanbaru mengaku lebih nyaman jika melakukan karantina mandiri di rumah.

Ia merasa dengan mengisolasi diri 14 hari di rumah, akan lebih tenang daripada dikumpulkan di sebuah lokasi selama 14 hari bersama pemudik lain.

Belum lagi secara psikologis akan mempengaruhi keluarga yang ada di rumah ketika anggota keluarganya yang baru tiba dan sebenarnya sehat tapi harus ikut diisolasi dua minggu.

“Kalau semua pemudik sehat sih enggak masalah, tapi bagaimana kalau ada yang kena. Kan malah bisa menulari yang lain. Dan kita juga sama-sama nggak tahu apakah semua sehat. Kalau di rumah kan bisa lebih tenang, kita tinggal lapor ke RT atau bidan jika ada keluhan. Alhamdulillah kami di sana (Pekannbaru) berangkat sudah cek kesehatan dan sehat, setiba pun kemarin saya juga langsung ke Puskesmas dan dicek sehat semua,” tuturnya. Wardoyo