loading...
Loading...
Anggota Komisi III DPRD Sragen, Muh Haris Effendi saat menunjukkan kolom susulan (siluman) yang diduga ditambahkan karena cor dag lantai dua mulai melengkung. Kondisi kolom itu sebelumnya ada yang rontok dan sebagian sudah retak serta tak simetris. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM- Kondisi Pasar Sumberlawang yang mulai retak-retak bagian pilar serta tembok lantai dua, menimbulkan keresahan bagi pedagang. Mereka was-was jika kerusakan makin parah dan pasar sewaktu-waktu ambrol.

Menurut Komisi III DPRD, jika bangunan pasar sampai ambrol sebelum usia 15 tahun, maka rekanan bisa dituntut untuk bertanggungjawab.

Meskipun saat ini, pasar yang baru setahun dibangun itu sudah habis masa pemeliharaannya. Anggota Komisi III DPRD Sragen, Muh Haris Effendi mengatakan mengacu UU Jasa Konstruksi, kontraktor atau rekanan bertanggungjawab secara konstruksi selama 15 tahun proyek dibangun.

Jika sebelum kurun waktu itu, bangunan sampai ambrol di luar faktor alam, maka proyek berarti gagal konstruksi dan rekanan harus bertanggungjawab.

Dengan proyek selesai 2018, maka kurun 15 tahun akan jatuh pada 2033. Jika sebelum tahun 2033, pasar ambrol karena kesalahan konstruksi maka rekanan masih bisa dituntut tanggungjawab.

“Artinya kalau sampai pasar Sumberlawang ini sampai ambrol karena konstruksinya yang tidak benar, berarti rekanan harus bertanggungjawab. Dan itu berarti proyeknya gagal konstruksi,”  paparnya kepada Joglosemarnews.com kemarin.

Baca Juga :  Kebakaran Landa Kedawung Mondokan. Gara-Gara Tungku Lupa Dimatikan, Bangunan Dapur Ludes Terbakar 

Proyek Pasar Sumberlawang dikerjakan oleh PT Wira Bina Prasamya Semarang dengan nilai anggaran Rp 13,7 miliar dan baru diresmikan Maret 2018 silam.

Haris menguraikan dalam UU Jasa Konstruksi mengamanatkan bahwa tanggungjawab penyedia jasa konstruksi terhadap konstruksi bangunannya adalah 15 tahun.

Ianmencontohkan banyak bangunan besar yang kemudian ambrol dalam hitungan beberapa tahun akibat kegagalan konstruksi. Kemudian rekanan penyedia jasanya akhirnya diproses hukum dan dimintai pertanggungjawaban.

“Memang banyak masukan dan kekhawatiran dari pedagang yang takut bangunan yang makin mengkhawatirkan. Kalau hujan ngeri karena atapnya cuma galvalum, air pada masuk dan banjir. Lalu konstruksi gedungnya juga nggak simetris sehingga cor dag sudah melengkung dan pecah-pecah. Wajar mereka khawatir karena mereka tiap hari jualan di sini,” urainya.

Lebih lanjut, Haris berharap insiden Pasar Sumberlawang bisa menjadi perhatian dan catatan bagi Pemkab. Menurutnya komitmen dinas yang katanya memperketat persyaratan lelang sehingga dirasakan rumit untuk tujuan mendapat rekanan kualified, kini patut dipertanyakan.

Baca Juga :  Tragis, Usai Diberi Makan, Kambing Milik Warga Sragen Ditemukan Hangus Terpanggang Kobaran Api

Sebelumnya, hasil sidak terakhir Komisi III di Pasar Sumberlawang, tiga pekan lalu kembali mendapati fakta miris.

Kondisi Pasar terbesar di jantung Sragen Barat semakin memprihatinkan. Para pedagang dan warga di Pasar Sumberlawang Sragen mengaku was-was lantaran muncul retakan di dinding lantai dua dan atap dag yang mulai melengkung.

Tidak hanya itu, kondisi pilar kolom siluman (susulan) untuk menopang dag lantai dua juga ditemukan keropos dan retak.

Petugas kebersihan Pasar Sumberlawang, Padi Petruk juga membenarkan keresahan para pedagang. Mayoritas mengaku khawatir bangunan bisa ambrol karena sudah melihat tanda retak muncul di dinding banyak titik dan balok tembok.

“Bisa dilihat Mas dinding di lantai dua ini kayak udah nggak nyatu dengan tembok. Sudah mentiyung, apalagi kalau pas kereta lewat bangunan bergetar semua. Siapa yang nggak takut Mas. Pedagang-pedagang pada takut semua,” paparnya.

Baca Juga :  Miris, Kesadaran Tertib Berlalu Lintas Warga Sragen Terburuk Kedua di Jateng. Hanya 11 Hari, 3.624 Pengendara Terkena Tilang 

Meski tak begitu paham konstruksi, Padi menilai memang ada yang tak beres dalam pembangunan pasar itu. Ia menduga banyaknya retakan dan rapuhnya dinding dikarenakan konstruksi yang kurang kuat.

“Di lantai atas saja, pedagangnya ada 50an. Padahal baru satu tahun, sudah kayak gini,” urainya.

Salah satu pedagang, Dwi, berharap jika ada kerusakan atau konstruksi yang rusak, bisa secepatnya diperbaiki. Sehingga kerusakan tidak semakin parah dan membahayakan keselamatan pedagang maupun pengunjung.

“Kalau pedagang, wong cilik seperti kami kan hanya manut. Tapi kalau lihat bangunannya sudah retak-retak, cor bawah mengelupas, lalu kemarin ada bocor juga, kami jadi nggak tenang. Makanya harapannya kalau ada yang rusak atau nggak bener, pihak terkait segera perbaiki agar tak semakin parah. Kalau nanti dibiarkan dan sewaktu-waktu ambrol, kasihan pedagang dan pengunjung,” tukasnya. Wardoyo

 

Loading...