JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Pendidikan

Lokasi Sekolah Pindah, Siswa SMPN 18 dan SMPN 3 Solo Mulai Diantar Bus BST

Siwa SMPN 18 dan SMPN 3 Solo mulai berangkat sekolah diantar Batik Solo Trans (BST) gratis per Kamis (2/1/2020) pagi. Istimewa

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Siwa SMPN 18 dan SMPN 3 Solo mulai berangkat sekolah diantar Batik Solo Trans (BST) gratis per Kamis (2/1/2020) pagi. Hal itu sebagai dampak dimulainya perpindahan kedua sekolah tersebut.

Namun Komisi IV DPRD Solo mendapati proses uji coba pemberangkatan para siswa dengan BST secara gratis tersebut belum berjalan lancar. Sesuai rencana, BST mulai membawa siswa dari SMPN 18 menuju SMPN 3 di Timuran dan siswa SMPN 3 di Timuran ke lokasi SMPN 3 baru di Karangasem setiap pagi.

“Namun ternyata belum lancar. Ternyata jumlah armada yang disediakan masih kurang. Terjadi perbedaan antara data siswa yang menggunakan armada umum,” ujar Ketua Komisi IV DPRD Solo, Putut Gunawan, Jumat (3/1/2020).

Baca Juga :  Aku Pintar Kembangkan Aku Pintar Sekolah, Permudah Guru Melaporkan KBM secara Digitalisasi

Putut menambahkan, masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki setelah dua hari pelaksanaan uji coba di dua sekolah tersebut.

“Salah satunya adalah kurangnya armada batik solo trans (BST). Uji coba pertama pemkot menggunakan empat unit BST. Klau menggunakan BST memang besar tapi jumlahnya kurang. Terlihat masih berebutan,” paparnya.

Kendati demikian, Putut menekankan hal itu tidak bisa menjadi patokan. Pasalnya, ke depan pemkot bakal menggunakan 20 unit feeder BST dimana saat ini armada tersebut masih dalam proses administrasi dengan pihak ketiga.

Baca Juga :  Klaster Ulang Tahun Kembali Sumbang Tambahan Kasus Positif Covid-19 di Solo, Total Kasus 611

“Masalah lainnya adalah terkait pendataan. Perlu dibenahi, ketidakjelasan pendataan ini sehingga antara armada yang disediakan dengan antrean siswa yang mau ikut tidak seimbang,” tandasnya.

Putut menekankan, pendataan harus dilakukan dengan survei kepada seluruh siswa. Masing-masing siswa menentukan apakah datang ke sekolah diantar atau jalan kaki. Jika diantar oleh keluarga berarti tidak menggunakan bus.

“Tapi yang ngisi survey keliru. Ternyata yang diantar ada yang ingin naik bus. Otomatis tidak terdata sehingga harus dikerahkan armada cadangan,” terangnya. Triawati PP