JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Takut Corona, Warga Krapyak Sragen Nekat Blokade Semua Jalan Masuk Kampung. Posternya Maaf Demi Kesehatan Bersama, Tamu dan Pendatang Wajib Lapor!

Jalan pintu masuk ke gang di Kampung Krapyak Sragen diblokade palang bambu dan ditulisi poster larangan untuk para pendatang dan tamu dari luar kota jika tidak lapor. Foto/Wardoyo

loading...
Jalan pintu masuk ke gang di Kampung Krapyak Sragen diblokade palang bambu dan ditulisi poster larangan untuk para pendatang dan tamu dari luar kota jika tidak lapor. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Lonjakan kasus corona virus yang terjadi seiring dengan mengalirnya pemudik, rupanya mulai berdampak memicu kekhawatiran psikologis warga yang tinggal di kampung.

Berbagai cara mulai dilakukan untuk memproteksi wilayah dari potensi wabah corona yang kemungkinan terbawa oleh pemudik. Salah satunya di Kampung Krapyak, Kelurahan Sragen, Kecamatan Sragen.

Warga empat gang dan RT di kampung itu mulai membentengi wilayah mereka dengan membuat blokade di pintu masuk ke jalan kampung.

Blokade dibuat Sabtu (28/3/2020) tadi pagi dengan memasang palang bambu menutup total akses jalan masuk ke kampung.

Pantauan JOGLOSEMARNEWS.COM , blokade itu dibuat di empat gang di RT 28 hingga 31/RW 10, Kampung Krapyak. Semua pintu masuk dari jalan utama menuju ke gang ditutup total dengan palang bambu.

Lalu di tengahnya diberi selembar poster dari karton berisi peringatan dengan tulisan “Perhatian untuk mengantisipasi penyebaran covid-19 dan demi kesehatan bersama, kami mohon kepada warga pendatang dan tamu yang datang dari luar kota atau daerah zona merah covid-19 diwajibkan melapor ke lingkungan setemlat atau pengurus RT”.

Surono (49) salah satu warga di RT 28/IX menuturkan pemblokiran jalan masuk kampungnya itu dilakukan berdasarkan kesepakatan warga di lingkungan RT-nya pada rapat Jumat (27/3/2020) malam.

Langkah itu dilakukan setelah mereka merasa kebobolan lantaran malamnya ada satu warga yang pulang dari Jakarta namun tidak mau melapor dan melakukan karantina mandiri. Padahal Jakarta termasuk kota zona merah corona virus.

“Tadi malam itu ada tamu yang datang dari Bali dan Jakarta masuk ke kampung kami. Yang dari Bali dengan niat sendiri mau lapor dan sekarang dalam pengawasan. Nah yang dari Jakarta itu tidak terdeteksi, tahu-tahu masuk dan nggak melapor. Padahal Jakarta kan masuk zona merah covid-19. Makanya tadi malam habis magrib, warga langsung kumpul bersama dan sepakat untuk mengantisipasi tamu dari luar yang masuk, akhirnya dibuat blokade jalan masuk ini,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Sabtu (28/3/2020).

Baca Juga :  Jenazah Satpam Cantik PT PAN Brothers Sragen Akhirnya Ditemukan Mengambang di Bengawan Solo Desa Sribit. Saat Ditemukan Posisinya Masih Pakai Seragam Lengkap
Warga Kampung Krapyak Sragen saat menjelaskan aksi blokade jalan untuk mengantisipasi penyebaran corona. Foto/Wardoyo

Ia menyebut upaya blokade itu bukan untuk melakukan lockdown di Kampung Krapyak. Sebab yang ditutup hanya akses masuk dari sebelah timur saja yang merupakan akses dari jalan raya. Sedangkan jalan masuk dari sebelah barat tetap dibuka.

Dengan jalan gang ditutup, semua pendatang atau tamu yang datang dari luar kota, hanya akan melintasi dua pintu masuk besar yakni di Pasar Krapyak Kecil dan di Gapura RT 27.

“Dengan begitu, maka semua pendatang yang masuk akan lebih mudah terdeteksi dan nggak bisa selintutan asal nyelonong lewat gang,” terangnya.

Dengan terdeteksi, maka para pendatang yang tiba dari luar kota akan bisa didata dan dengan kesadaran sendiri atau diingatkan maka mereka nantinya harus melakukan karantina mandiri selama 14 hari sesuai anjuran pemerintah.

Menurut warga, hanya dengan cara itulah bisa menekan potensi penyebaran virus yang kemungkinan terbawa dari pendatang.

“Sampai kapan kita blokade. Ya nanti sampai menunggu perkembangan dari pemerintah dan sampai situasi aman dari corona. Kami harapkan semua pendatang juga bisa bekerjasama agar bisa menekan covid-19. Bahkan kampung-kampung lain kami harapkan bisa meniru,” tukasnya.

Baca Juga :  Terungkap, Peneror Petugas Medis di Sragen Yang Jemput Pasien Positif Covid-19, Mengatasnamakan Kelompok Salah Satu Klaster

Surono menambahkan langkah proteksi itu juga dilakukan lantaran saat ini psikis warga benar-benar khawatir. Sebab dari hari ke hari angka kasus makin meningkat.

“Kalau yang masih muda, antibodinya kuat sih mungkin bisa tahan. Tapi kalau orang sudah tua kayak Mbah ini sudah 70 tahun, sudah lemah fisiknya, nempel saja kan bisa nyebar dan berbahaya,” tegasnya sambil menunjuk tetangga di sampingnya yang sudah tua.

Terpisah, Ketua Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sragen, Tatag Prabawanto tidak menampik sejak adanya arus pemudik yang pulang ke kampung halaman dalam beberapa hari terakhir, terjadi lonjakan kasus baik pelaku perjalanan (PP), orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP) corona di Sragen.

Sampai hari ini, Sabtu (28/3/2020) jumlah PP di Sragen sudah mencapai 2.216 orang, 73 ODP dan 5 PDP.

Padahal sehari sebelumnya, jumlah PP baru 1.705 orang, 63 ODP dan 5 PDP. Ia tak menampik lonjakan itu salah satunya akibat arus pemudik dari kota-kota besar di Jabodetabek sekitarnya yang tiba di Sragen karena di kota mereka bekerja sudah menerapkan semi lockdown.

“Maka dari itu, kami meminta semua pendatang atau pemudik yang baru tiba dari luar kota, harus melapor dan periksa ke Puskesmas. Sehingga bila ada gejala bisa terdeteksi dan ditangani. Lalu ada gejala atau tidak, semua pendatang atau PP yang baru pulang dari perjalanan luar kota maupun ODP, harus isolasi mandiri selama 14 hari di rumah. Ini demi kepentingan dan keamanan bersama,” tandasnya. Wardoyo